BANGKALAN – Masih banyak siswa-siswi di Madura yang terancam putus sekolah dan sudah putus sekolah. Namun, keberadaan mereka tidak banyak diketahui. Ada yang jauh di pelosok desa, ada juga yang hidup di tengah kota.
Mereka yang tersebar itu berhasil ditemukan oleh Ayo’ Asakola (YAA). Mereka kemudian dibantu dengan donasi yang dikumpulkan YAA melalui jejaring sosial facebook (FB), twitter, website hingga blackberry grup. Kini sudah 35 siswa-siswi tak mampu dibantu YAA dari seluruh Madura.
Adalah Nur Rahmad Akhirullah atau akrab disapa Yoyong yang mengetuai YAA itu. Menurut dia, YAA berawal dari ide sederhana yang mengharapkan semua anak-anak Madura bisa menikmati pendidikan hingga perguruan tinggi (PT). “Saya tahu Madura akan semakin berkembang dan maju. Anak-anak Madura tidak boleh ada yang tidak sekolah,” kata Yoyong, kemarin.
Yoyong kemudian mengutarakan niatnya membuat gerakan donasi ke salah satu dosen Universitas Trunojoyo Yayan Ariyani dan jurnalis senior Mohammad Tojjib. “Mbak Yayan dan Mas Tojjib ternyata sudah lama ingin membuat gerakan semacam itu. Malam itu juga (20/5), kami membuat proposal gerakan donasi pendidikan,” ujarnya.
Proposal gerakan donasi itu bukan untuk diedarkan ke lembaga pemerintah atau swasta, melainkan di jejaring sosial facebook. “Kebetulan waktu itu semua orang sedang gandrung facebook-an dan kami punya banyak teman di jejaring sosial itu,” ujarnya.
Begitu diunggah, banyak yang merespon gerakan donasi pendidika Ayo’ Asakola. Berbagai saran pun masuk untuk mewujudkan gerakan tersebut.
Info tentang anak-anak tidak mampu juga diperoleh dari jejaring sosial facebook melalui grup tertutup. Donasi pun mulai berdatangan dari teman-teman di facebook. Bahkan, orang Madura yang ada di Arab, Amerika, Australia, Irian Jaya, Jakarta, Kalimantan pun ikut mengirimkan donasi.
“Supaya tidak bermasalah di belakang hari, kami minta izin pada donatur untuk menggunakan sebagian donasi guna membuat akta hukum,” imbuhnya.
Setelah akta hukum jadi, gerakan YAA makin banyak pendukungnya. Bersamaan dengan itu, informasi mengenai anak yang terancam putus sekolah dan putus sekolah juga semakin banyak di seluruh Madura.
“Pusat kegiatan kami di Bangkalan. Tapi di Sampang ada Mbak Devi dan Mas Novin, Pamekasan Mamik dan Safa, dan di Sumenep ada Diska. Di setiap kabupaten di Madura, ada juga adik-adik YAA,” kata Yoyong.
Hingga saat ini informasi terus masuk tentang anak-anak yang butuh bantuan meneruskan sekolah. Pengurus pun berusaha untuk terus meningkatkan donasi. Caranya dengan mengajak donatur membeli kaos sambil berdonasi hingga mengajari adik-adik YAA menulis buku.
Direncanakan pertengahan 2013 YAA akan menerbitkan buku untuk fundrising atau meningkatkan donasi. Pengisi buku itu adalah adik-adik YAA yang nyaris putus dan sudah putus sekolah namun hingga kini masih sekolah.
“Buku itu akan berisi kisah semangat mereka untuk tetap sekolah. Berharap pembaca nanti akan memberi dukungan dan bukan karena kasihan untuk membantu mereka,” ujarnya.
Yoyong berharap buku itu bisa menjadi inspirasi anak-anak miskin lainnya untuk terus mengejar ilmu di sekolah. Sekaligus meningkatkan donasi untuk membantu anak-anak lainnya yang putus atau terancam putus sekolah di Madura. (mad/abe)