SUMENEP – Madura merupakan etnis terbesar ketiga setelah Jawa dan Bali. warga Madura tersebut diseluruh pelosok nusantara, bahkan luar negeri. Namun, kebudayaan Madura terancam akan punah jika tidak segera dilakukan upaya memperkenalkan dan melestrasikan tradisi Madura kepada anak muda.
Cara yang paling efektif untuk memperkenalkan kebudayaan Madura kepada anak muda adalah melalui institusi pendidikan. “Perlu ada tindakan nyata untuk memasukkan budaya Madura kepada anak muda melalui pendidikan,” kata Syukur Ghazali.
Demikian mengemuka dalam Seminar Kongres Kebudayaan Madura II, Jum’at (21) malam, di Sumenep. Hadir sebagai pembicara Guru Besar Universitas Negeri Malang Prof. A. Syukur Ghazali, Peneliti LIPI Prof Dr. Mien A Rifai, Antropolog Prof. A Latief Wiyata, dan Budayawan D. Zawawi Imron.
Penulis buku Tata Wacana Bahasa Madura tersebut melihat, dalam bahasa Madura, misalnya, ada pengeroposan bahasa yang disebabkan pengaruh dari luar dan dalam Madura. Maraknya bahasa gaul dan bahasa asing yang lebih digandrungi pemuda Madura selain memperkaya bahasa sekaligus sebagai ancaman.
“(orang) Madura mudah terpengaruh karena pembelajaran bahasa Madura yang tidak intensif. Juga keengganan pemerintah dalam menggunakan muatan lokal,” terang pria kelahiran Pamekasan tahun 1950.
Mien A Rifai mengamini makin lunturnya kebudayaan Madura. Ia mengaku kerap bertemu dengan warga Madura yang tinggal di luar Madura enggan untuk menggunakan bahasa Madura saat berkomunikasi dengan sesama orang dari madura. “Alasan yang digunakan, dari pada salah mending mengunakan bahasa lain. Itu penyakit anak muda (Madura),” tegas penulis Manusia Madura itu.
Melihat makin lunturnya kebudayaan Madura, Guru Besar IPB tersebut mengajak warga Madura untuk mengamalkan ilmunya membesarkan Madura. “Salah satu tanda manusia bagian dari manusia Madura mengamalkan ilmunya,” jelas pria kelahiran Sumenep yang saat ini menjadi peneliti senior di LIPI.
Antropolog yang pernah meneliti konflik masyarakat Madura menilai, jembatan Suramadu yang sudah beropeasi sejak tahun 2009 belum memberikan dampak yang signifikan. “Saya hanya melihat lapak PKL-PKL di jembatan Suramadu sisi Madura. Ini yang membedakan Suramadu Madura dengan Suramadu Jawa,” kelakar Prof. A Latief Wiyata.
Menurut penulis buku Carok itu. nenek moyang orang Madura telah memprediksi Madura kelak akan jadi tempat tujuan. Hal ini terlihat dari syair lagu Ole Olang. “Kata Syair ‘Ole olang. Paraona alajara. Alajaraka temur dajah’, menurut saya ada pesan nanti Madura akan jadi tujuan. Titik tolak dari sana (Jawa). Dari Madura ayo wujudkan. Jangan hanya ke Jawa,” ajak pria yang bernah bersekolah di tiga kabupaten di Madura.
Sementara itu, Budayawan D. Zawawi Imron melalui makalah “Kebudayaan Madura, Dialog Warisan Tradisi dan Masa Depan” memaparkan, tradisi Madura penting untuk didialogkan dengan kondisi saat ini dan yang akan datang sehingga tidak mati.
“Kebudayaan sebagai warisan jika tidak didialogkan akan jadi almarhum (mati),” katanya.
Kebijakan
Untuk menjaga kebudayaan Madura selain keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan, peran pemerintah melalui kebijakan-kebijakan juga tidak kalah penting. “Perlu ada kebijakan yang memihak dari pejabat,” kata A. Syukur Ghazali.
Negara telah menjamin akan menjaga kebudayaan daerah selama dipelihara dengan baik oleh pemiliknya. “Pasal 31 mengatakan, bahasa daerah yang diperlihara pemiliknya akan dipelihara negara,” lanjut pria penerima penghargaan Satya Lencana 20 tahun tersebut.
Salah seorang peserta yang bergiat dalam penerbitan buku mata pelajaran bahasa Madura bercerita, di Pamekasan Pemkab setempat telah mengeluarkan Perda Nomor 3 Tahun 2001 tentang proses pembelajaran agar bahasa Madura diajarkan kepada siswa dari tingkat dasar hingga SLTA.