SUMENEP – Dua orang telah berdiri tegak di atas gelanggang dengan kepala ditutup karung. Masing-masing memegang tongkat rotan yang berfungsi sebagai alat pukul. Mereka bak panglima perang masa kerajaan, tangkas dan lihai dalam menghantam lawan. Semuanya berebut jadi pemenang setelah bertarung selama tiga sampai lima ronda.
Ojhung, demikian warga menyebutnya, adalah pertunjukan tradisional masyarakat Rubaru, Sumenep, yang tetap lestari sampai saat ini. Pertunjukan ini tak pernah alpa digelar setiap tahun, saat musim kemarau panjang tiba.
Jum’at (28/12) kemaren, Dusun Bungpeng, Desa Bumbere’, Kecamatan Rubaru, tempat digelarnya pertunjukan ojhung, ramai didatangi warga. Bahkan, panitia sampai menyiapkan tempat parkir untuk kendaraan para penonton pertunjukan ojhung.
Kebudayaan ojhung digagas pertama kali oleh tokoh masyarakat Desa Bunbere’, almarhum Kiai Darun. Tidak diketahui secara pasti kapan Kiai Darun menggagasnya. “Ojhung sudah berpuluh-puluh tahun memang ada di Desa Bumbere’, bahkan sejak saya belum lahir, katanya memang sudah ada,” cerita Seinal, 40, warga Dusun Bumpeng.
Pagelaran tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas sumber air yang masih tetap lancar mengalir tak mengenal musim. Sebelum acara ojhung dihelat, warga mengaji dan tahlil bersama di Asta K Moh Syakim. “Ini memang menjadi tradisi di sini, sebelum Ojhung dilaksanakan, kami semua melaksanakan ritual seperti ngaji dan bertahlil di Asta K Syakim,” jelas panitia.
Karnawi, 50, pemandu sekaligus peputo (wasit) dalam pagelaran ojhung, sebelum memulai mengingatkan kepada seluruh petarung dan penonton untuk berdoa bersama agar ritual ojhung diberkahi dan warga diberikan keselamatan.
“Karena pagelaran Ojhung bukan untuk main-main, tetapi untuk menyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan, agar kita semua terhindar dari balak, dan juga menjaga kelestarian titisan leluhur,” teriaknya.
Hal senada juga diungkapkan Zainuddin, bahwa ojhung ini digelar setiap tahun untuk keselamatan desa. “Karena, jika ritual ojhung tidak dilaksanakan biasanya seringkali ada perang saudara (atokar sataretanan) dan musibah-musibah yang lain. Makanya, ojhung di sini masih dihelat setiap tahun, katanya.
Koran Madura sempat melihat, sumber air titisan K Moh Syakim yang telah berpuluh tahun itu masih tetap mengalir deras. Baik di musim kemarau maupun musim penghujan. Sungguh jarang menemukan sumber mata air yang berpuluh-puluh tahun masih tetap lancar mengalir. Bagi warga Bungbere’, hal ini adalah anugerah yang luar biasa. Saat musim kemarau panjang datang, air ini menjadi satu-satunya kebutuhan. Baik untuk mandi, menanak, mencuci maupun untuk keperluan-keperluan lain. Oleh karenanya, tradisi ojhung terus ditunjung tinggi. (syam/mk)