BANGKALAN – Tidak hanya di kota metropolitan, perkembangan gepeng (anak jalanan) kini merambah kota kecil, seperti di Bangkalan. Dalam catatan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Bangkalan dalam dua tahun terakhir terdapat 442 anak jalanan, diantaranya berasal dari luar kabupaten. Angka tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan di Bangkalan.
Menurut pendataan terkini Dinsosnakertrans Bangkalan, 80 persen anak jalanan putus sekolah karena kendala biaya. Sebagian besar dari mereka turun ke jalan untuk mencari nafkah dengan mengamen atau mengemis.
Anak-anak jalanan yang memiliki rentang usia beragam mulai lima tahun hingga 17 tahun itu berdatangan dari berbagai daerah di luar Bangkalan. Mereka mencari nafkah dan berkeliaran di jalan, karena kurang mendapat perhatian orang tua.
”Kebanyakan dari mereka putus sekolah pada tingkatan SMP. Anak-anak ini rawan dieksploitasi untuk digunakan mencari uang oleh orang tua. Karena itu, menyelesaikan masalah anak jalanan harus dimulai dari menyelesaikan persoalan yang ada dalam keluarga mereka masing-masing,” kata Kepala Dinsosnakertrans Bangkalan Siswo Irianto melalui Ketua Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Imam Sunandar.
Dia menambahkan, dari jumlah tersebut, 90 persen anak jalanan yang ada di Bangkalan merupakan pendatang. Faktor utama mereka menjadi anak jalanan lantaran kondisi sosial ekonomi dan kemiskinan. Mereka terpaksa turun ke jalan untuk mencari nafkah.
Anak jalanan tersebut dapat dijumpai di 12 kecamatan di Bangkalan. Sebanyak 33 anak jalanan di Kecamatan Burneh, 35 anak di Kwanyar, dan 32 anak jalanan di Tanjung Bumi. Selain itu, penyebarannya berada di Geger dan Arosbaya sebanyak 70 anak jalanan. Juga di Kamal terdapat 50 anak jalanan.
”Untuk di daerah Kota dan Socah sebanyak 84 anak jalanan. Terakhir mereka tersebar di Klampis dan Blega, masing-masing 31 anak jalanan serta di Tanah Merah sebanyak 30 anak,” terangnya.
Lanjut Imam, untuk mengurangi jumlah anak jalanan, pihaknya tiap tahun mengadakan program pelatihan kerja bagi anak jalanan. Pelatihan kerja diadakan di Balai Pelatihan Kerja di Kabupaten Bangkalan dan Pamekasan. Kemampuan yang diajarkan juga beragam meliputi bidang otomotif, menjahit, dan komputer. Tak lupa pula pelatihan pertukangan dan las. Pelatihan tersebut diberikan sesuai dengan keterampilan yang dimiliki masing-masing anak jalanan selama enam bulan. Setelah pelatihan selesai, mereka dibekali alat atau kebutuhan yang berkaitan dengan keterampilannya.
”Itu adalah pelatihan yang kami berikan dengan harapan mereka dapat terus mengembangkan keterampilannya dan dapat mensejahterakan kehidupan mereka,’’ ujar Imam.(ori/rah)