PAMEKASAN—Puluhan warga dari Aliansi Masyarakat Pejuang Rakyat (Ampera), Pamekasan, Jawa Timur, kemarin (30/1) menggelar demonstrasi di depan kantor Panitia Pengawas (Panwas) Pemilukada setempat. Mereka meminta lembaga itu atas rekomendasi pencoretan tiga pasangan calon peserta Pemilukada Pamekasan, karena dianggap tidak memenuhi syarat.
Zainal Abidin koordinator aksi mengatakan, Panwaslu Kabupaten Pamekasan awalnya mengeluarkan rekomendasi kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pamekasan bahwa pasangan Kholilurrahman-Masduki (KOMPAK) tidak memenuhi syarat sebagai pasangan calon bupati dan wakil bupati.
Rekomendasi itu menyusul keputusan KPU Pamekasan yang mencoret pasangan Achmad Syafii-Kholil Asyari (ASRI) sebagai peserta pemilukada.Setelah itu, kata Zainal, Panwaslu Pamekasan, juga meminta KPU mencoret Al Anwari-Kholil (AHO) karena tidak memenuhi syarat dukungan.
“Lembaga ini meminta agar dilakukan pengulangan proses dari awal. Nampak sekali kalau ditunggangi oleh salah satu pasangan calon,” ungkap mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional (GMNI) ini.
Aksi yang dijaga ratusan Polisi itu nyaris diwarnai kericuhan. Karena tidak satupun anggota Panwaslu yang mau menemui pengunjukrasa. Perwakilan mereka diijinkan masuk dan memeriksa setiap ruangan. Tapi tak ada satupun orang di dalamnya.
Kantor yang berada di lokasi bekas stasiun di Jalan Trunojoyo itu, nyaris disegel massa. Tapi Polisi melarangnya sehingga terjadi aksi dorong.
Massa AMPERA yang mengaku kecewa atas kinerja Panwas Pemilukada Pamekasan mengancam akan mendatangi kantor tersebut dalam waktu yang tidak ditentukan. Mereka juga mengancam akan merusak atau membakar kantor tersebut, jika Panwaslu Pamekasan tidak segera menindaklanjuti aspirasi mereka.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, tiga anggota Panwaslu studi banding ke luar kota, namun tidak dijelaskan di mana lokasi studi banding tersebut. (teef/muj)