JAKARTA – Kesenian Madura mendapat perhatian tersendiri dari kalangan artis Ibu Kota. Menurut mereka, bila kesenian tersebut dirawat, dimodifikasi, dan dilestarikan, suatu saat kesenian Madura tidak hanya bergema di pentas nasional. Tetapi, gaung kesenian Madura sampai ke manca negara.
Itulah kesimpulan dari pembicaraan Pemred Koran Madura Abrari saat berbincang dengan Arzeti Bilbina di studio TV One Jakarta (28/12). Menurut Arzeti, sejauh ini Madura seolah-olah hanya mendengar kerapan sapi, batik, dan sate Madura yang terkenal. Tetapi saat bertemu langsung dengan sejumlah orang Madura di Jakarta, Arzeti memahami kesenian Madura jauh lebih banyak dari yang dia ketahui.
Salah satu contohnya, Arzeti menyebut rag-aragen yang ditampilkan Said Abdullah Institute (SAI) di hari terakhir Kongres Kebudayaan Madura II beberapa waktu lalu. Di dalam tayangan itu, Arzeti mengaku temukan banyak kesenian dan pakaian adat. Diantaranya, baju lega (baju kebesaran), pakaian cebbing, ul daul, saronen, sape sono’ dan banyak lagi yang lainnya. “Madura untuk Dunia, wow keren,” Arzeti memberi semangat.
Sebelum Arzeti, artis Ibu Kota, Kirey datang ke acara Kongres Kebudayaan Madura II. Kirey tidak hanya datang sebagai peninjau. Tetapi, dia hadir justru ikut menjadi bagian dari pelaku rag-aragen bersama masyarakat dengan mengendarai kereta kencana. Hal yang sama juga dilakukan Ayu Azhari yang untuk beberapa hari tinggal di Kabupaten Sumenep. Ayu, saat itu, cukup terkesan dengan makanan dan minuman tradisional Madura.
Budayawan Madura, Edhi Setyawan sependapat dengan para artis yang meyakini kesenian Madura untuk mendunia. Di era 1990-an, kesenian Madura (topeng) telah melanglang ke Eropa. Di pentas internasional, kesenian Madura mendapat apresiasi yang luar biasa sebagai karya seni anak bangsa. Tetapi, Edhi merasa telah terjadi ketidakseimbangan antara apresiasi di daerah dengan jagat internasional. Menurutnya, di daerah regional kesenian tidak sepenuhnya mendapat tempat yang layak. “Waktu itu, di Eropa, usai kami tampil terdapat tiga aplaus dari pemiarsa. Tiga aplaus tersebut menjadi tanda bahwa grup yang tampil sangat bagus,” Edhi bercerita.
Ketua Dewan Pembina SAI (Said Abdullah Institute) Said Abdullah mengaku hanya melakukan remotivasi berbudaya. Said yakin jika bukan warga Madura sendiri yang memelihara dan merawat budayanya sendiri, dapat dipastikan budaya Madura habis pada saatnya. Karena itu, sebelum hal terburuk itu datang, Said melakukan budaya tanding terhadap masuknya globalisasi yang tanpa batas. Antara lain, dia bersama masyarakat secara gotong-royong menyelanggaran Kongres Kebudayaan Madura I dan II disusul rag-aragen serupa parade budaya Madura secara kolosal. “Nah, kami ingin menggugah kesadaran bersama bahwa budaya lokal itu sangat penting,” dia menjelaskan.
Sekedar diketahui, tanggal 28 Desember 2012 lalu rombongan dari Madura bertandang ke Jakarta. Mereka antara lain Pemimpin Redaksi Koran Madura Abrari, Model Cebbing dan Penari Mowang Sangkal masing-masing Indah, Mazida, Fethy, Serly, Vera, dan Ketua Dewan Pembinan SAI, MH Said Abdullah untuk mengkampanyekan Madura untuk Dunia di live TV One, Jakarta. (dav/bet)