BANGKALAN – Banjir yang diakibatkan luapan sungai Blega, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, kemarin (2/1), merendam ratusan rumah milik warga yang berada di delapan kampung. Rumah mereka terendam air setinggi paha orang dewasa.Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Wahid Hidayat menjelaskan, banjir di Blega merupakan banjir kiriman dari luapan sungai Kombangan, kecamatan Geger, Durin Kecamatan Konang dan Kelbung Kecamatan Galis. Ketiga wilayah tersebut merupakan dataran tinggi yang mengelilingi Desa Blega.
“Kami akan lebih melakukan pendataan terhadap korban banjir, sebelum melakukan tindakan yang bersifat tindaklanjut. Untuk sementara, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini,” katanya.
Ia menjelaskan, pihaknya BPBD membangun plengsengan di daerah aliran sungai (DAS) dan melakukan pengerukan, karena sungai tersebut mengalami pendangkalan.
Faqih, warga Kampung Laok Sungai memperkirakan air datang pada pukul 02.30 WIB, ketika semua warga sedang terlelap. Banjir yang terjadi di Desa Blega ini merupakan banjir tahunan. Hampir tiap tahun saat curah hujan tinggi, Desa Blega selalu kebanjiran.
Selain rumah, air juga menggenangi Jalan Raya Blega dan hingga kemarin siang belum menunjukkan tanda-tanda akan surut. Sejumlah kendaraan roda dua dan roda empat yang mencoba melewati jalan raya tersebut. mogok.
Pengguna jalan pun terpaksa menerobos genangan air tersebut, karena tidak ada jalan alternatif.
Mogoknya kendaraan bermotor yang mencoba menerobos air itu, membuat kemacetan di jalan raya tersebut. Kondisi tersebut diperparah dengan tindakan pengendara yang berebut untuk saling mendahului. Sementara di lokasi, tidak ada petugas yang berjaga-jaga.
Untuk mengurai kemacetan, sebagian warga secara sukarela mengatur kendaraan yang mau melintas.
Warga setempat, Zainul menjelaskan, luapan air yang terjadi kemarin memang langganan di wilayahnya. Dangkalnya sungai juga diduga menjadi pemicu banjir.
Sementara itu, para pemilik toko yang ada di sekitar genangan air sibuk membersihakan toko agar air tidak sampai mengotori atau merusak barang dagangan mereka. “Kalau tidak dibersihkan, dagangan saya bisa kotor dan rusak,” kata salah seorang pemilik toko busana di lokasi banjir, Zulaiha. (dn/beth)