JAKARTA – Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) menilai, pemerintah lamban mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Revitalisasi Bulog. Padahal lembaga ini mengaku sudah mempersiapkan rencana ini secara matang sebagai stabilisator harga beras, kedelai dan gula.
“Kami sangat berharap Perpres-nya (Revitalisasi Bulog) bisa segera keluar atau keluar tahun ini juga. Selama ini kita masih terus melakukan impor,” kata Direktur Utama Bulog, Sutarto Alimoeso di Gedung Bulog Jakarta, Kamis (3/1).
Selain telah menyerahkan draft rekomedasi revitalisasi Bulog, kata Sutarto, sejauh ini pihaknya juga sudah melakukan pendekatan ke beberapa negara untuk memenuhi ketersediaan komoditas pangan. “Kami sudah melakukan pendekatan dengan Amerika Serikat, Brazil dan India. Kami juga sudah meningkatkan intensitas pendekatan dengan importir-importir di dalam negeri,” paparnya.
Menurut dia, jika peluncuran Perpres Revitalisasi Bulog tersebut tidak bisa terwujud pada tahun ini, maka kredibilitas Bulog akan diragukan dengan mitra yang selama ini bersedia untuk bekerja sama. “Takutnya, mereka tidak akan percaya lagi dengan kami, jika rencana ini tidak berjalan,” ujarnya.
Guna menjalankan perannya sebagai stabilisator harga tiga komoditas pangan, jelas Sutarto, saat ini Bulog telah mematok target jumlah ketersediaan pasokan di 2013. “Tahun ini diperkirakan, Perum Bulog mendapatkan peran mengelola kedelai. Direncanakan pembelian kedelai sebanyak 400 ribu ton,” katanya.
Pasokan kedelai tersebut, jelas Sutarto, sebesar 80 persen didatangkan dari mancanegara dan sisanya diharapkan bisa dihasilkan oleh petani domestik. “Pada 2012, kita masih impor kedelai sebanyak 70 persen. Tahun ini tentunya masih akan besar,” imbuhnya.
Target pasokan kedelai tersebut, kata dia, akan dijual ke masyarakat sebanyak 300 ribu ton, sehingga stok pada akhir 2013 masih ada sebesar 100 ribu ton. “Saat ini stok kedelai kita nol. Tahun ini direncanakan pembelian dan penjualan gula sebesar 110 ribu ton. Stok gula kita di tahun ini juga nol. Tahun depan stoknya juga akan nol, karena jumlah pembeliannya sama dengan jumlah penjualannya,” papar Sutarto.
Soal ketersediaan beras, Bulog menargetkan pengadaan beras di 2013 mencapai 3,55 juta ton tanpa adanya impor. Jumlah ini diharapkan mampu memenuhi target penyaluran tahun ini yang mencapai 3,42 juta ton. “Kami menargetkan pengadaan PSO (public service obligation) 2013 sebanyak 3,55 juta ton dan diharapkan mampu menjaga stok beras hingga akhir tahun minimal 2 juta ton,” katanya.
Kendati Bulog masih diperkenankan untuk mengimpor beras sebanyak 670 ribu ton, namun kata Sutarto, pihaknya berharap pada tahun ini tidak akan mengimpor beras. “Kalau dilihat dari produksi 2012, pengadaan dari dalam negeri akan mampu memenuhi pengadaan beras,” kata Sutarto.
Dia mengatakan, pada 2012 pengadaan beras dari dalam negeri bisa mencapai 2 juta ton dan impor sebanyak 2,66 juta ton. “Tetapi, impor atau tidak impor akan ditentukan tiga faktor, yakni harga, pencapaian ramalan produksi 6 persen, dan stok Bulog. Kalau stok tergerus, maka kami akan melakukan impor,” paparnya.
Sutarto mengatakan, per 31 Desember 2012 stok beras Bulog sebesar 2,3 juta ton atau setara dengan pemenuhan kebutuhan 8,35 bulan penyaluran rutin.
Sementara itu, kata Sutarto, target penyaluran beras PSO di 2013 sebanyak 3,42 juta ton atau lebih rendah dari penyaluran di 2012 yang sebanyak 3,89 juta ton. “Penyaluran beras raskin di tahun ini akan mencapai 3,02 juta ton atau lebih sedikit dibandingkan dengan tahun lalu yang sebesar 3,41 juta ton,” tuturnya.
Sutarto menambahkan, tahun ini pihaknya berharap bisa mengelola cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 433,11 ribu ton. Stok beras milik pemerintah ini, kata dia, akan dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan saat bencana alam dan operasi pasar sebanyak 250 ribu ton. (bud/abe)