PAMEKASAN- Penjual daging sapi di sejumlah pasar tradisional mengaku rugi akibat naik-turunnya harga daging sapi di pasaran. Para pedagang mengaku mengalami kerugian hingga rata-rata 700 ribu setiap hari.
Hindun, salah satu pedagang daging sapi di Pasar Kolpajung, Kecamatan Pamekasan, mengatakan sejak empat bulan terakhir, harga daging sapi mengalami fluktuasi. Sehingga, para pedangang seringkali mengalami kerugian akibat taksiran harga daging yang tinggi.
“Saat ini harga taksiran sapi Rp. 80 ribu perkilogram, namun setelah sampai di pasar, harganya hanya Rp. 75 ribu perkilogram, sehingga kami mengalami kerugian hingga Rp. 10 ribu dari harga taksiran,” katanya.
Selain harga yang tidak menentu, tingkat pembelian daging sapi oleh masyarakat mengalami penurunan. Akibatnya, para pedagang harus mengalami kerugian akibat penyusutan berat daging yang dimiliki, karena tidak laku dan harus dijual pada keesokan harinya.
“Ada kecenderungan masyarakat untuk beralih ke sayuran dan ikan laut. Sebab, meski cenderung naik-turun, harga daging sapi masih terbilang tinggi untuk ukuran warga Pamekasan,” kata Hindun.
Karenanya, pihaknya hanya bisa mengandalkan pembeli tetap, seperti pemilik warung nasi dan penjual baso. Meski mereka harus diberi harga khusus, namun keberadaan mereka sangat menguntungkan para penjual daging di pasar tradisional.
Sementara itu, tingginya harga daging sapi berpengaruh pada harga ikan laut yang terus mengalami kenaikan. Kenaikan harga ini, selain dipicu cuaca buruk, juga dipengaruhi meningkatnya pembelian akibat mahalnya harga daging sapi.
Sejumlah pedagang ikan mengatakan, penjualan ikan laut mulai meningkat sejak terjadinya kenaikan harga daging sapi beberapa bulan lalu. Warga mulai memilih mengkonsumsi ikan laut dan sayuran.
Akibatnya, mereka seringkali kekurangan persediaan terutama pada saat pasokan ikan minim.
“Biasanya, kami akan kekurangan pada masa terang bulan dan musim angin seperti saat ini, dimana pasokan ikan sangat minim karena minimnya hasil tangkapan dari nelayan,” kata Nurul, salah seorang pedagang ikan.
Untuk menjamin ketersediaan stok ikan itu, sejumlah pedagang harus mendatangkan dari luar Madura, diantaranya Gresik dan Lamongan. (teef/muj)