JAKARTA – Pakar politik Universitas Indonesia Boni Hargens menilai media sebagai alat utama sistem politik demokrasi hanya menyentuh kalangan atas.
“Masyarakat kalangan bawah tidak tersentuh media, tidak mengetahui apa-apa tentang parpol dan tokohnya. Sebagian besar mereka hanya mengikuti tokoh yang dominan saja,” katanya, kemarin (3/1).
Ia mengatakan banyaknya parpol yang menggunakan media canggih sekarang tidak sejalan dengan rata-rata tingkat pendidikan masyarakat Indonesia.
“Parpol sekarang ini menggunakan jejaring sosial Twitter, Facebook dan sebagainya. Apakah rakyat menengah ke bawah tahu itu semua? Apakah mereka dapat mengakses media tersebut?” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Indonesia juga masih dibayangi sejarah politik pada masa silam yang hanya cenderung bersifat elitis, atau hanya mengikutsertakan kalangan tertentu, terutama kalangan atas.
“Kita bisa lihat pada sistemdemokrasi terpimpin, rakyat hanya menjadi penonton,” tukasnya. Dampaknya, kata dia, masyarakat tidak mempunyai banyak pilihan dalam memilih pemimpin.
“Tidak ada pilihan lain, tokohnya hanya itu-itu saja,” imbuhnya.
Boni juga menilai kampanye dan promosi tokoh kepada masyarakat melalui media tidak memunculkan ideologi parpol, akan tetapi lebih banyak mengarah kepada pencitraan tokoh.
“Parpol lebih mempertimbangkan siapa yang ‘layak jual’, bukan lagi mempertimbangkan dan menjunjung aspek ideologisnya,” katanya. (ant/abe)