BANGKALAN – Masyarakat Bangkalan boleh berbangga. Sebab kota paling barat di pulau Madura ini terkenal dengan buah salaknya. Akan tetapi, pasaran buah salak belum tertangani secara optimal. Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Kabupaten Bangkalan, Puguh Santoso, melalui Kepala Bidang (Kabid) Produksi, Tanaman Pangan dan Hortukultura, Lily Rosalia mengungkapkan persoalan pemasaran salak Bangkalan ini kepada wartawan Koran Madura.
Menurut Lily Rosalia, pasaran salak tidak tertangani secara optimal bukan karena buah salak asal Bangkalan ini berkwalitas rendah. Bahkan, bila ditangani secara baik, optimistis pasaran salak Bangkalan sangat bagus. Sampai sekarang, salak Bangkalan sudah terjual di daerah Bali dan sejumlah tempat di Jawa Timur. Hanya persoalannya pemasaran salak ini masih dikelola oleh perseorangan.
Sejumlah penjual salak di Kabupaten Bangkalan mengakui persoalan pasaran salak Bangkalan ini. Mereka mengaku lebih banyak menjual hasil panen salak di stand-stand sederhana, yang tidak jauh dari rumah mereka. Selebihnya salak hanya dipasarkan di pasar tradisioanal yang disediakan pemerintah di Kota Bangkalan.
“Ya, jualnya hanya di sekitar sini saja. Kadang di pasar Senenan dan pasar lainnya,” ungkap Juwairiyah (40) warga Pasalakan, Senin (14/1).
Salimah (35), penjual salak lain mengatakan hal yang sama. Dirinya mengakui cukup menjual salak hasil kebunnya di stand sederhana yang dibuat oleh suaminya. Sebuah stand yang berada di depan rumahnya. Dengan demikian Salimah tidak perlu menjualnya sampai ke pasar. Sungguh pun begitu, lanjut Salimah, jika ada pesanan dalam jumlah besar, akan diantarkan ke rumah orang yang memesan salak tersebut. “Di sini sudah cukup, Mas. Meskipun seadanya, tidak perlu memasarkan salak keluar kota,” ungkapnya.(dn/rah)