PURWAKARTA – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri menegaskan, partai politik seharusnya bisa memainkan peran yang jauh lebih luas dari sekadar berkutat di soal menang kalah dalam sebuah pemilu. Sayangnya, perkembangan wacana publik akhir-akhir ini justru tidak berjalan ideal. “Ada ambivalensi sikap yang membingungkan yang menunjukan wajah ganda dari masyarakat cerdik-pandai Indonesia saat kini,” ujar Megawati saat menyampaikan Pidato Politik HUT PDI Perjuangan Ke 40 di Waduk Juanda, Jatiluhur, Kamis (10/1).
Di satu sisi kata dia partai dipersepsikan sebagai beban bagi sistem politik, seolah penyakit yang harus dibasmi. Di sisi lain, partai dituntut untuk “membuka diri” sebagai kendaraan bagi orang-perorang menuju jabatan publik. “Kita juga menyaksikan munculnya aneka institusi baru, misalnya “calon independen” sebagai saingan partai,” urai dia.
Di ekstrim yang lain, kata dia perlombaan untuk membentuk partai seakan menjadi perlombaan yang tak mengenal lelah. Ambivalensi lainnya terekam dengan sangat baik ketika ada kader partai yang mencatat prestasi, hal ini dihargai dan dipahami sebagai prestasi individu. “Sebaliknya, ketika ada kader partai yang bermasalah, seluruh dosanya ditimpakan menjadi dosa partai sebagai lembaga,” jelas dia.
Saat ini juga kata Mega, berjalan suatu kondisi dengan generalisasi berlebihan: bahwa semua partai adalah sumber masalah. Cara pandang seperti ini memberikan dis-insentif bagi partai-partai yang secara sungguh-sungguh berusaha memperbaiki diri. Sebagai Partai, PDI Perjuangan telah berusaha untuk mendengar dengan sungguh-sungguh keluhan rakyat. “Kita berusaha sekuat tenaga memperbaiki diri. Sudah tentu masih ada kelemahan di sana-sini, tapi kemajuan yang dicapai tidaklah sedikit,” tutur dia.
PDI Perjuangan misalnya, telah dan sedang memperbaiki proses rekrutmen. “Kita secara serius telah mengembangkan instrumen evaluasi dan monitoring para kader yang berada di eksekutif, legislatif, dan struktural partai. Kita telah mengembangkan sistem informasi terpadu dimana track record dari kader ditampilkan dalam database Partai,” imbuh dia.
Hasil evaluasi dan monitoring maupun porto folio yang dipunyai kader, dijadikan sebagai dasar dalam proses rekrutmen. Dalam proses rekrutmen kita bahkan telah melibatkan psikolog, melalui psikotest, dan dilaksanakan di seluruh Indonesia. Para psikolog tersebut dengan dedikasi yang begitu besar membantu partai dalam memetakan potensi kader-kader kita.
Sekolahkan Kader
Untuk jangka panjang, PDI Perjuangan telah dan sedang menyekolahkan sejumlah kader agar kelak memiliki kemampuan yang diperlukan dalam mengelola pemerintahan. Bahkan, PDI Perjuangan sedang menyiapkan “sekolah partai” dengan bantuan para guru besar dari sejumlah perguruan tinggi yang kredibel. Kaderisasi dan sekolah partai bahkan sengaja dirancang untuk membentuk kader yang memiliki karakter, di luar kemampuan teknokrasi dan manajerial yang diperlukan. Hal ini dilakukan melalui penekanan pada ideologi dan praktek ideologi.
Hanya saja, langkah-langkah di atas, tidak tertangkap mata para pemerhati. “Karenanya, saya melihat perkembangan wacana deparpolisasi ini bukan lagi persoalan akademis. Ia sudah menjadi persoalan ideologi. Analisis yang diberikan, sekalipun memakai dalil-dalil akademis, lebih sebagai proyeksi dari pragmatisme dan individualisme sebagai sikap ideologis para pengusungnya. Hal ini berulang kali kita saksikan dalam sejarah politik Indonesia terhadap berbagai gagasan anti partai ini,” kritik Mega. (gam/abe)