BANGKALAN – Meski situasi keamanan di Bangkalan berangsur normal, namun Kantor KPUD setempat masih tetap dijaga petugas keamanan dan dilindungi pagar kawat berduri. Sejumlah petugas keamanan masih terlihat berjaga-jaga dengan siaga atas segala kemungkinan terburuk yang bisa mengancam setiap saat.
Dalam tiga pekan pasca Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) lalu, situasi kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) memang belum pulih benar. Apalagi para pendukung pasangan nomor urut 1 (KH. Imam Buchory Cholil – RH. Zainal Alim) masih terus melakukan upaya-upaya perlawanan terhadap keputusan PTUN yang mendiskualifikasi pasangan ini.
Situasi sempat memanas saat dua ruang perpustakaan di Ponpes Ibnu Cholil (Pondok KH. Imam Buchory Cholil) yang disinyalir sebagai tempat penyimpanan bukti-bukti pelanggaran pemilukada terbakar. Imam Buchory mensinyalir bahwa pembakaran dilakukan secara sistemik oleh oknum yang tidak menghendaki aib KPUD Bangkalan terungkap.
Padahal saat ini, kubu Imam-Zain sedang dalam proses persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai penggugat KPUD dalam sengketa hasil Pemilukada Bangkalan. Imam-Zain menduga KPUD telah melakukan upaya-upaya sistemik, terstruktur, dan masif untuk memenangkan pasangan nomor urut 3 (Momon – Mondir).
Gelombang demo dari pasangan Imam-Zain pun kembali marak. Sasaran mereka kantor Panwas dan KPUD setempat. Tak pelak penarikan total pasukan keamanan pun tertunda. “Masih sekitar 300 personil Brimob yang ditugaskan disini untuk menjaga segala kemungkinan,” ujar AKBP Endar Priantoro, Kapolres Bangkalan.
Sampai kapan ratusan personil Brimob ini tetap berada di Bangkalan? Endar juga belum bisa memastikan. “Belum ada instruksi Kapolri tentang hal tersebut,” ujar Endar. (dit/rah)