SURABAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat potensi tanah longsor menyebar di bagian pesisir selatan, terutama selama musim penghujan tahun ini.
“Dari data di Pusat Data Operasi (Pusdaops) BPBD Jatim, saat ini potensi titik rawan bencana longsor menyebar di hampir semua kabupaten/kota di pesisir selatan, khususnya selama terjadi Badai Narelle,” ujar Kepala BPBD Jatim Sudharmawan, kemarin (17/1).
Ia mengatakan, kawasan yang rawan longsor berada beberapa kabupaten di pesisir selatan, antara lain Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang dan Banyuwangi.
“Sebelumnya, di setiap daerah biasanya yang rawan hanya dua kecamatan. Namun, kali ini lebih banyak, semisal di Kabupaten Pacitan,” kata mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bangkalan tersebut.
Sudharmawan juga menjelaskan, di beberapa kawasan di Kabupaten Pacitan sudah mengalami retakan, sehingga sebagian penduduknya mulai diungsikan.
Menurut dia, hingga saat ini ada 266 kepala keluarga yang diminta mengungsi karena ada pergerakan tanah dan masuk kategori berbahaya. Selain itu, di kawasan Ponorogo juga dinilai rawan longsor dan perlu diwaspadai.
Dalam catatan BPBD Jatim, saat ini potensi curah hujan pada bulan depan akan semakin meningkat mencapai 500 mm/bulan. Kondisi itulah yang harus diwaspadai di setiap wilayah yang rawan bencana.
“Kalau curah hujan tinggi, wilayah yang mengalami retakan bisa longsor. Kami sudah mendirikan pos pantau di lapangan untuk mengantisipasi dan membantu penanganannya,” kata Sudharmawan.
Sementara itu, BPBD juga telah memprediksi Badai Narelle akan segera berakhir dalam bulan ini. Sekarang, kata dia, hanya terkena ekornya, sehingga kemungkinan angin kencang akan semakin berkurang.
“Namun, intensitas hujan kemungkinan besar akan semakin tinggi dalam satu hingga dua bulan ke depan,” katanya.
Berdasarkan catatan BPBD, Badai Narelle mengakibatkan beberapa kabupaten di Jatim mengalami musibah banjir bandang dan puting beliung.
Musibah tersebut mengakibatkan tiga orang meninggal dunia karena tertimpa bangunan ketika terjadi angin puting beliung, serta puluhan rumah rusak. (ant/abe)