BANGKALAN – Dinas Perindutrian dan Perdagangan (Disperindag) Bangkalan menyatakan, produk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang banyak mendapat perhatian wisatawan manca negara dan domestik adalah batik.
“Untuk saat ini terdata 1.260 unit usaha batik dan 3.700 pengrajin batik yang ada di Kecamatan Tanjung Bumi,” kata Kepala Disperindag Bangkalan Budi Utomo, kemarin (2/1).
Ia menjelaskan, sejak beberapa waktu lalu, motif khas batik Bangkalan kerap ditiru batik printing. Untuk menghindari dan mengantisipasi banyaknya imitasi corak batik Bangkalan, Disperindag memfasilitasi diperolehnya hak kekayaan intelektual (HAKI) untuk motif batik asli Bangkalan.
Sesuai data di Disperindag, terdapat 125 motif batik Bangkalan. Sebanyak 32 motif batik telah memiliki hak paten. Ketigapuluh dua batik tersebut merupakan motif kuno yang harus dipatenkan. Selain itu, terdapat 4 pengrajin yang memiliki HAKI atas nama pribadinya.
Selain batik, Bangkalan memiliki produk unggulan yang menjadi kebanggan bagi Propinsi Jawa Timur, yaitu kerajinan tali agel. Hal tersebut dikarenakan daun ponco’ yang merupakan bahan mentah tali agel hanya berada di daerah Bangkalan, tepatnya Kecamatan Kokop.
“Untuk kerajinan tali agel sendiri masih diproduksi di dua tempat, yaitu Kecamatan Kokop dan Kecamatan Sepuluh. Kalau di Kokop pembuatan bahan mentah menjadi bahan baku, di Sepuluh mulai mengubah dari bahan baku menjadi barang jadi,” ujarnya.
Budi juga mengemukakan, pengolahan dan proses produksi tali agel masih dilakukan secara sangat tradisional, yaitu dipelintir dengan menggunakan paha.
“Kalau menggunakan mesin hasilnya tidak bagus. Warga Kokop yang berrprofesi sebagai pengrajin tali agel, pahanya pasti merah dan kasar,” katanya. (dhe/beth)