JAKARTA – Kementerian Kesehatan akan melakukan tes HIV/AIDS dilokasi lokasi rawan prostitusi. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menargetkan dalam dua tahun ini bisa melakukan test terhadap 1,5 juta pelaku seks komersil, baik perempuan maupun laki-laki pembelinya.
“Jumlah ini memang masih sangat kecil, tetapi sebagai langkah awal sudah cukup bagus,” kata Nafsiah, Selasa (5/2).
Ia mengakui mestinya test bisa dilakukan pada 30 juta orang yang rawan terhadap penyebaran HIV/AIDS. Tetapi untuk melakukan test sebanyak itu, dibutuhkan anggaran Rp 600 miliar.“Kita tidak ada anggaran. Karena itu kita belum bisa melakukannya,” lanjut Nafsiah.
Diakui prevalensi HIV/ADIS di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat terus. Data akhir 2012, diperkirakan 591.823 orang Indonesia terkena HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut hanya 15.372 penderita saja yang dilaporkan.
Peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS tersebut antara lain disumbang oleh makin banyaknya pria yang melakukan seks dengan pria (LSL) serta pria yang melakukan tranksaksi seks ditempat prostitusi. Termasuk juga makin meningkatkan prosentase pembeli seks bebas yang menolak menggunakan kondom.
“Saat ini sekitar 8 juta pria bekerja jauh dari istrinya. Dan itu sangat memungkinkan dia melakukan transaksi seks bebas,” tukas Nafsiah.
Pada 2005, prosentase pria yang melakukan pembelian seks bebas hanya 0,1 persen dari total penduduk rawan HIV/AIDS. Tetapi angka tersebut meningkat 7 kali lipat pada 2011. (inung)