SAMPANG – Ali (5), Heri (5), Subhan (7), dan Ayu (10) asyik menikmati hari libur dengan bermain di halaman Gor Tenis Indor kabupaten Sampang.
Diantara mereka yaitu Subhan dan Ayu tampak sedang asyik bermain layang-layang dibantu oleh Nurholis (28), paman mereka. Sedangkan Heri asyik berlarian sembari memegang layang-layang yang benangnya tak lebih dari 1 meter. Begitu juga dengan Ali asyik berlarian mengitari ketiga temannya sembari membawa bendera Merah Putih kecil dengan gagang sebuah lidi.
Tampak keceriaan dari keempat anak pengungsi korban konflik SARA Sampang ini. Mereka seolah-olah tidak perduli di mana mereka sedang bermain. Mereka seakan sudah melupakan peristiwa yang telah menimpa mereka.
Ayu yang duduk di kelas 3 SD mengatakan, ini adalah hari libur jadi dia manfaatkan untuk bermain. Bila hari-hari biasa selain hari Minggu, dia beserta anak-anak pengungsi korban konflik SARA lainnya pagi hari harus sekolah di sekolah darurat bagi korban konflik SARA.
“Setiap hari Minggu atau hari libur kami bermain bersama, ya main apa saja memanfaatkan permainan yang ada, yang bisa dibuat untuk mainan, kalau hari Senin sampai Sabtu kami masuk sekolah, di sekolah darurat,” tutur Ayu.
Nurholis (28), yang merupakan paman Ayu dan Subhan menjelaskan bahwa benang dan layang-layang yang dibuat mainan oleh Ayu, Subhan, dan Heri diperoleh dari layang-layang yang putus yang masuk ke dalam area Gor Tenis Indor tempat para pengungsi.
“Sering layang-layang putus dan jatuh ke halaman Gor. Jadi kami ambil, kami berikan pada anak-anak buat mainan mereka. Ya untuk saat ini, hanya itu yang bisa kami lakukan, anak-anak juga merasa bosan bila hanya bermain di area bermain yang disediakan oleh Pemkab Sampang untuk anak-anak pengungsi,” tutur Nurholis.
Heri dan Ali tampak asyik berlarian memegangi layang-layang dan bendera Merah Putih, Heri berlari untuk menjaga layang-layangnya agar tetap terbang, karena benangnya yang hanya sekitar 1 meter. Sedangkan Ali berlarian mengibarkan benderanya sembari bernyanyi dengan logatnya yang masih kurang benar dalam pengucapan bahasa.
“Bendelaku melah putih, bendelaku melah putih, bendelaku melah putih,” Ali bernyanyi riang di antara teman-temannya. (cyo/msa/rah)