Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi RI Terlalu Tinggi
JAKARTA – Ekonom dari Universitas Ma Chung Malang, Moch Doddy Ariefianto menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlalu tinggi telah memicu pembengkakan impor bahan baku dan barang modal. Pada gilirannya situasi ini telah menciptakan defisit transaksi berjalan yang terus melebar karena impor itu tidak diimbangi oleh ekspor. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rata-rata diatas enam persen dalam beberapa tahun terakhir ini terlalu tinggi dan tidak mencerminkan kekuatan yang sebenarnya,” ujar dia di Jakarta, akhir pekan, Sabtu (9/2).
Seperti diketahui, pada 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebasar 6,23 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan di 2011 yang mencapai 6,5 persen. Pada tahun ini, melalui APBN 2013 pemerintah mengasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,8 persen.
Menurut Doddy, rata-rata pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dalam beberapa tahun terakhir ini lebih didorong oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan suku bunga rendah. “Pertumbuhan ekonomi kita terlalu tinggi, jika dibandingkan dengan lingkungannya (regional). Ini karena besarnya subsidi BBM dan subsidi dalam bentuk bunga yang rendah,” kata Doddy akhir pekan lalu di Jakarta.
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlalu tinggi di tingkat ASEAN, akhirnya mempercepat laju impor bahan baku dan barang modal untuk memenuhi kebutuhan industri. Doddy mengatakan, laju ekspor yang tidak dapat mengimbangi kecepatan impor telah menciptakan defisit transaksi berjalan yang kian melebar.
Doddy memaparkan, secara kumulatif defisit transaksi berjalan 2012 mencapai USD21,49 miliar. Menurut dia, angka terbilang tidak wajar, mengingat pada periode yang sama setahun sebelumnya masih surplus USD1,27 miliar.
Selain dari impor bahan baku dan barang modal, kata Doddy, pemicu lainnya yang menyebabkan defisit transaksi berjalan adalah impor minyak dan gas bumi, terutama BBM yang sangat besar. Pada 2011 impor migas hanya sebesar USD40,71 miliar dan melonjak 4,58 persen menjadi USD42,57 di 2012. “Kalau pertumbuhan ekonomi kita agak lambat, mungkin defisit transaksi berjalannya tidak sebesar sekarang,” kata Doddy.
Lebih lanjut Doddy menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terlalu tinggi juga didorong oleh kebijakan Bank Indonesia yang tengah berupaya menerapkan rezim suku bunga rendah. Seperti diketahui, saat ini Bank Sentral tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di angka 5,75 persen.
“Kalau pemerintah dan BI lebih mementingkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daripada menjaga inflasi dan defisit transaksi berjalan, maka dimungkinkan BI akan mempertahankan kebijakan bunga rendah dan pelemahan rupiah mungkin juga akan ditoleransi,” paparnya.
Respon Negatif
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution kembali menegaskan, sejauh ini pasar masih mempersepsikan negatif terhadap membengkaknya impor bahan bakar minyak (BBM) yang menjadi faktor utama penyebab defisit transaksi berjalan.
“Kalau defisit karena impor barang modal dan bahan penolong, kualitasnya tetap bagus, tetapi kalau ada hal lain, itu yang tidak terlalu bagus. Hal lain itu oil import,” kata Darmin saat ditemui di Kompleks Perkantoran BI Jakarta, akhir pekan lalu.
Menurut Darmin, kondisi eksternal yang belum sepenuhnya pulih telah membuat defisit transaksi berjalan lebih tinggi dari perkiraan BI, baik secara kuartal maupun keseluruhan tahun. “Namun tingkat defisit ini bukan sesuatu yang luar biasa,” ucapnya.
Darmin menambahkan, kondisi perekonomian di Indonesia serupa dengan negara emerging markets lain, seperti India, Brazil, Turki dan Rusia. “Coba saja lihat, kalau dijejer angka pertumbuhan ekonomi, defisit transaksi berjalan dan policy rate-nya mirip. Jadi, yang dilihat tidak terlalu positif oleh pasar, bukan level dari defisit, tetapi kualitasnya,” papar Darmin.
Darmin menjelaskan, defisit transaksi berjalan masih bisa tertutup oleh surplus neraca finansial dan neraca modal. “Sepanjang defist transaksi berjalan bisa ditutup surplus neraca modal, ini tidak bisa dianggap bermasalah. Kalau ada hal lain yang tidak di bawah kendali, itu yang tidak bagus,” terangnya. (bud)