Probolinggo – Suasana hening Kampung Dok, Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, mendadak berubah, Sabtu (9/2) sekitar pukul 21.30 wib. Puluhan kepala keluarga yang awalnya tenang, tiba-tiba ramai. Mereka resah dengan serbuk kayu yang beterbangan di lingkungannya.
Agar serbuk kayu yang masuk ke rumah dan pelataran rumahnya tidak terhirup, warga yang tinggal di RT 01 dan RT 02 RW 06 itu, kemudian menutup hidung dan mulutnya dengan masker, bahkan mereka yang tidak tidak memiliki masker, menggunakan kain seadanya.
Menurt sejumlah warga, serbuk yang berasal dari perusahaan particle board milik PT Kutai Timber Indonesia (KTI) itu, menghujani lingkungannya, usai maghrib. Lantaran terus mengguyur, alias tidak berhenti, warga melaporkan peristiwa yang jarang terjadi itu, ke Muhammad Syukur, Lurah Mayangan.
Hj. Novia, salah satu warga menjelaskan, Kendati kampungnya sering diguyur serbuk kayu, namun kejadian seperti itu tidak setiap hari. Perempuan berjilbab ini juga mengatakan, selain mengotori rumahnya, serbuk kayu itu juga menyebabkan warga sesak nafas, kulit memerah dan gatal. Karenanya ia meminta Pemkot dan PT KTI, segera menghentikan derasnya hujan serbuk tersebut.
Sebenarnya, kata Hj Novia, warga yang tinggal di dekat pabrik particle board ini dijanjikan untuk direlokasi. Namun hingga kini, rencana tersebut belum terealisasi. Karenanya ia meminta agar pemkot segera merealisasikan rencana tersebut dengan ganti rugi yang sepadan. Dirinya dan warga yang lain, sudah tidak betah tinggal di kampung yang dikelilingi pabrik tersebut.
Beras kompensasi 10 kilogram yang diterima warga setiap bulannya tidak cukup dan tidak sebanding dengan ekses yang ditimbulkan perusahaan triplek berbahan serbuk kayu itu. Ia dan warga yang lain berharap agar kejadian ini tidak terulang dan pihak perusahaan mampu menjaga kampung dok, bebas dari serbuk. “Pokoknya harus bebas dan bersih dari serbuk, Jangan parah seperti ini,” pinta Hj Novia yang diangguki warga yang lain.
Hal senada juga disampaikan Maisaroh, warga setempat. Ia mengaku sudah capek dengan guyuran serbuk. Kendati dirinya dan warga beberapa kali pernah melaporkan peristiwa serupa ke Badan Lingkungan Hidup (BLH), DPRD setempat, bahkan ke Walikota, namun hingga kini belum ada tanggapan. Saat dilaporkan, mereka mengatakan akan segera ditindak lanjuti. Tetapi kenyataannya, laporan warga tidak ditindak lanjuti.
Dalam kesempatan itu, Maysaroh dan warga yang lain meminta, agar pihak perusahaan mengelola dengan baik, sehingga serbuk tidak berhamburan ke rumah warga. Ia mengaku, sebelumnya pihak PT KTI, pernah memberi pelayanan kesehatan, dengan cara memeriksa kesehatan warga. Hanya saja program tersebut sudah lama berhenti. “Hanya beberapa kali. Sekarang sudah tidak ada. Hanya diganti beras yang kwalitasnya jele,” terang Maysaroh.
Sementara, Lurah Mayangan, Muhammad Syukur, mengatakan, akan melaporkan resahnya warga itu ke Walikota, DPRD setempat serta ke pihak PT KTI. Setelah mengadakan pertemuan dengan menejemen PT KTI, ia mengaku ada kebocoran, sehingga serbuk kayu meresahkan warga. “Memang ada kebocoran. Namun secara tekhnis, saya tidak tahu yang bocor itu bagian mana,” kata lurah setempat, Minggu (10/02) sekitar pukul 16.30 wib . (gus)