JAKARTA- Sebab sering disebut-sebut terlibat dalam kasus korupsi Hambalang, ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dijadikan sasaran tembak oleh kawan-kawannya di Demokrat. Dia dianggap sebagai biang keladi jebloknya elektability partai berlambang “Mercy” tersebut.Dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), elektabilitas partai Demokrat merosot tajam hingga 8,3 persen. Sejumlah elit partai Demokrat akhirnya mendesak ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil upaya penyelamatan partai.
Baca Juga “Kalau Saya Korupsi Gantung saya di Monas”.
Alhasil, SBY mengambil alih partai Demokrat dan meminta agar Anas Urbaningrum untuk memfokuskan diri pada upaya untuk menghadapi dugaan masalah hukum yang sedang ditangani oleh KPK.
Akan tetapi, menurut pengamat politik AS Hikam, langkah penyelamatan yang dilakukan SBY belum menghentikan upaya perlawanan Anas Urbaningrum. Sebab, Anas mempunyai tafsir tersendiri terhadap perintah Wanbin tersebut. “Anas Urbaningrum merasa tak masalah jika ia tetap aktif, dengan alasan dirinya tidak boleh abai terhadap kegiatan-kegiatan rutin. Ini artinya Anas masih tetap ngeyel dengan menggelar strategi perlawanan melalui wacana kontra (counter-discourse),’ kata Hikam kepada okezone, Minggu (10/2/2013).
Baca Juga “Anas Sudah Mulai Berani Melawan SBY”.
Anas, kata Hikam, akan terus melawan dengan penafsirannya sendiri tentang perintah SBY itu. Karena Anas didukung penuh oleh para pengikutnya, ditopang analisa para pengamat. Dia akan menciptakan opini publik yang kuat.
Perlawanan melalui wacana itu, kata Hikam, bisa efektif men-distorsi keputusan Majelis tinggi Partai Demokrat. “Anas itu media darling, belum lagi orang-orang di luar Partai Demokrat terus mengompori Anas untuk melawan, menurut saya pertarungan di Demokrat masih panjang, tapi kalau delapan poin yang disebutkan SBY itu dijalani seluruh DPD maka Anas akan Selesai,” katanya.
Dikatakan Hikam, sumber permasalahan di Demokrat ini berawal dari pimpinan KPK, yang mengombang-ambingkan status Anas.
“Saya melihat KPK bukan sebagai lembaga, tapi Pimpinan KPKnya. Lihat saja Abraham Samad, Busyro Muqoddas, dan juru bicaranya, Johan Budi, mereka terlalu banyak berdebat ke publik. Katanya sudah memeriksa puluhan orang sebagai saksi dalam kasus Hambalang, terus katanya sudah menandatangani surat perintah penyidikan (sprindik) kepada Anas, Akan tetapi dibantah lagi, pimpinan KPK terlalu banyak omong ke publik,” kata Hikam. (ugo) okezone