Pulau Madura menjadi kawasan manis yang diincar pelaku industri gula. Begitu Pemprov Jatim menawarkan potensi lahan di Pulau Garam –julukan lain Pulau Madura, dua tahun lalu, perusahaan perkebunan, PTPN XI dan PTPN X langsung bergerak cepat.
Kini ribuan hektare lahan di Madura sudah menjadi ladang tebu. Industrialisasi gula segera tumbuh di sana seiring rencana realisasi pembangunan pabrik gula. Lahan kering yang menjadi trade mark kondisi tanah persawahan dan perkebunan di pulau itu dinilai masih memiliki potensi untuk pengembangan tanaman tebu. Proyek awal penanaman tebu di beberapa area menunjukkan hasil positif tahun 2012, sehingga tahun ini pengembangan lahan tebu dan rencana industrialisasi gula Madura semakin dipercepat. PTPN X menyebutkan, penyebaran penanaman tebu binaanya di Pulau Madura saat ini sudah mencapai empat kabupaten, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Dari keempat kabupaten itu, potensi terbesar berada di Bangkalan dan Sampang. Luas lahan tebu di Bangkalan, mencapai total 1.850 hektare. Rinciannya, 604, 8 hektare beruap lahan ratun atau lahan yang sudah ditanami sejak tahun 2011 dan sekitar 1.250 hektare lahan baru. Lahan tebu di Bangkalan tersebar di 16 kecamatan.
Di Sampang, jumlah luas lahan tebu sekarang sekitar 795 hektare yang tersebar di 13 kecamatan. Luas lahan yang ditanami tahun 2011 dan sekarang terus berproduksi seluas 221,9 hektare. Luas lahan pengembangan yang baru ditanam sekitar 573 hektare.
Sedangkan luas lahan tebu di Pamekasan dan Sumenep mencapai 76 hektare di tujuh kecamatan. Luas lahan tebu di dua kabupaten ini tergolong kecil karena masyarakat mayoritas di sana sebagai petani tembakau.
Sinder Kebun Kepala Pengembangan Madura PTPN X, Lelono Sugiharto mengatakan, hasil tebu dari perkebunan rakyat yang dikembangkan bersama PTPN X tahun lalu mencapai 400 kuintal per hektar. Hasil tebu itu dikirim ke PG Tulangan dan PG Krembung.
“Jika dihitung, hasil panen tebu 90 persen untuk petani, yang 10 persen sebagai bibit. Dari penjualan tebu ke PG SHU, seorang petani mampu memperoleh pendapatan antara Rp 4 juta sampai Rp 13 juta per hektarenya,” terang Lelono.
Direktur Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), Aris Toharisman menyatakan, Pulau Madura merupakan daerah yang paling berpotensi sebagai kawasan pengembangan industri gua nasional. Hal itu bisa dilihat dari kondisi lahan yang masih cukup baik untuk budidaya tebu. Di sisi lain, luas lahan yang bisa digunakan juga sangat luas.
Namun, potensi lain yang lebih besar sebenarnya bisa ditemui di Merauke, Papua. Tapi beragam keunggulan sudah didapat di Madura. “Di Madura, sisi SDM lebih unggul karena banyak masyarakat yang hidup bertani meski harus belajar lagi menanam tebu, fasilitas infrastrutur di Madura juga lebih baik, terlebih setelah ada jembatan Suramadu,” terang Aris.
Berdasarkan kajian P3GI, potensi lahan di Madura untuk tebu mencapai 80.000 hektare. Kalau dihitung secara nettonya, ada sekitar 50.000 sampai 60.000 hektare yang bisa digarap. Jika potensi itu dikerjakan seluruhnya, kontribusi gula dari Madura sangat signifikan bagi negara. “Setidaknya Madura bisa menambah 10 persen dari produksi gula nasional yang sudah ada,” ujar Aris.
- See more at: http://surabaya.tribunnews.com/2013/01/28/menanam-gula-di-pulau-garam#sthash.wjbXQwCH.dpuf