JAKARTA-Sejumlah lembaga survey menempatkan Partai Golkar di posisi teratas partai pemenang pemilu 2014. Namun hasil survey itu tidak bisa dijadikan rujukan karena hasilnya bisa saja berbanding terbalik dengan kenyataannya nanti. Hal ini disebabkan, Partai Golkar memiliki beban sejarah masa lalu yang sangat berat, terutama parta yang dianggap titisan orde baru. “Boleh saja lembaga survei memprediksi bahwa Partai Golkar akan memenangkan pemilu 2014 mendatang. Tapi saya tidak yakin kenyataannya akan begitu,” kata pengamat politik Iberamsjah di Jakarta,11/2/2013.
Menurut Guru Besar Ilmu Politik UI ini, masyarakat saat ini hanya kecewa pada Partai Demokrat. Dimana sebagai penguasa yang diharapkan bisa menjadi agen perubahan. Namun ternyata tak berbeda dengan partai lain yang korup. “Survei dilakukan saat ini dimana masyarakat kecewa dengan Partai Demokrat sebagai penguasa. Tapi tak bisa dipastikan itu akan menjadi sikap masyarakat pada pemilu mendatang,” tambahnya
Masyarakat saat ini kata dia sudah cerdas. Sehingga cepat atau lambat, masyarakat akan mengoreksi kembali pilihannya. “Bukan tak mungkin masyarakat akan cepat mengkoreksi pilihan. Toh survey sudah ada yang menyebut partai tertentu yang juara korupsi. “Masyarakat akan menyadari bahwa pilihan kepada Partai Golkar adalah pilihan yang salah,” imbuhnya.
Praktek korupsi yang menimpa Partai Demokrat, menurut Iberamsjah, masih sebatas korupsi proyek seperti yang dilakukan partai-partai lainnya. ”Tapi kalau mengkorupsi Al Quran, itu Masya Allah namanya. Kok ya bisa program pengadaan Al Quran pun dikorupsi,” katanya.
Lebih jauh kata Iberamsjah, kondisi negara yang saat ini sangat korup-pun tidak lepas dari peranan yang berkuasa saat ini. Selama 32 tahun berkuasa, Partai Golkar menunjukkan dan mengajarkan para politisi dan birokrasi untuk korup. ”Yah para pelaku korupsi sekarang ini darimanapun asal partainya belajar korupsi yah dari Partai Golkar.Kalau dibilang yah moyangnya koruptor itu Partai Golkar,” tegasnya.
Saat inipun, menurut Iberamsjah Partai Golkar, tidak belajar dari pengalaman masa lalu, dimana partai berlambang Pohon Beringin itu nyaris dibubarkan. Partai Golkar meski saat ini tidak menjadi penguasa masih menduduki peringkat pertama yang kader-kadernya terlibat dalam kasus-kasus korupsi. “Sebenarnya Anas itu hanya sial saja. Karena dia ada di dalam partai penguasa,” paparnya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, lanjut Iberamsjah lagi, masyarakat akan benar-benar menilai mana partai yang “umum” dan mana partai yang benar-benar kelewatan. ”Saya rasa semua partai sama melakukan korupsi anggaran, tapi ada yang “umum” ada yang luar biasa. Korupsi Al Quran dan sapi impor itu baru kelewatan karena bersentuhan langsung dengan masyarakat dan keyakinannya. Seperti korupsi impor sapi yang jadi korban masyarakat langsung, partai yang terlibat akan merasakan akibatnya pada 2014 nanti,” pungkasnya. (cea)