Sampang – Sudah hampir sekitar satu bulan lebih masyarakat Dusun Mandangin Desa Aeng Sareh Kecamatan Kota Sampang diresahkan dengan ulah PT Husky, salah satu pengelola minyak saat berada di desa setempat.
Pasalnya, para warga sekitar yang rata-rata pencari ikan di laut dilarang mendekatai areal kapal milik PT Husky tersebut. Alasannya, saat kapal pengelola minyak itu beroperasi tidak terganggu dan merusak peralatan milik para nelayan.
H.Rido (45), Warga Dusun Demongan Desa Aengsareh Kecamatan Kota Sampang, menuturkan, beberapa barang peralatan miliknya rusak dan tak bisa kembali melaut mencari ikan. Salah satunya jaring yang biasa ia gunakan untuk tangkapan ikan kini rusak dan terlihat robek.
“Pada waktu itu saya cari ikan di tengah. Dari jauh itu PT.Husky melarang beberapa nelayan untuk ke pinggir dan menjauh, bahkan gardan (jaring-red) rusak,” tuturnya kepada Koran Madura.
Tak hanya dirinya yang menjadi korban pengelola minyak. Ratusan penduduk warga di desa setempat yang mayoritas nelayan juga merasa dirugikan. Kini warga merasa terbebani jika mata pencariannya terganggu dan tak bisa beraktivitas kembali. Warga merasa rugi hingga jutaan rupiah.
“Punya teman saya, Pak, Syamsudin juga ikut jadi korban. Saya rugi hampir 2,5 juta, karena kebanyakan di sini sudah jadi nelayan. Kalau kayak gini gak kerja lagi, dan apa yang mau dikasihkan sama anak kita,” ucapnya.
Hal sama juga dikeluhkan H. Rifai (36). Ia mengatakan, meski PT Husky sendiri sudah melakukan pertemuan selama dua kali, namun hingga kini masih belum ada realisasi dari PT Husky terhadap warga seperti yang diharapkan.
Padahal, menurut Rifai, dari PT Husky sendiri sudah berjanji jika akan ada kompensasi. Bahkan, saat itu dalam pertemuan dua karyawan PT Husky bernama Nurul Hadi dan Fainus salah satu karyawan, belum bisa memastikan kapan kejelasan tersebut.
“Yang datang itu dari PT Husky belum bisa kapan jelasnya, cuma katanya perwakilan saat pertemuan akan memberikan kompensasi terhadap warga yang dirugikan, tapi sampai sekarang tidak ada,”jelas salah satu tokoh masyarakat desa setempat.
Jika nantinya dari PT Husky sendiri belum ada keputusan setelah hasil di lakukan secara baik, seluruh warga mengecam akan melakukanya aksi demo besar-besaran dan membakar kapal milik PT Husky.
“Warga di sini juga sudah memanas jika belum ada keputusan secara tegas dari pengelola minyak akan terjadi aksi yang tidak diingikan, karena kasian warga kalau kayak gini, kan, sama aja hengkang dari nelayan hanya kerja tidur di rumah,” pungkasnya. (ryn)