Oleh : Abrari Alzael
Dari jauh terdengar lagu lama. Ebiet G.Ade, Berita kepada Kawan. Tidak tahu dari mana awalnya, tetapi sayup-sayup terdengar kata. “… Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa…”
Seperti ada ketidakseimbangan postural alam. Sebagian gunung mulai batuk-batuk. Ada kolam tumpah menggenangi kota dan kendaraan yang berlalu lalang ibarat kapal (setengah) selam. Dari sisi klenik-bimasakti ini tidak hanya sekedar siklus dimana sebuah gunung harus memuntahkan lava pijar. Namun fenomena alam ini bisa ditakwil sebagai isyarat bahwa yang terjadi hari ini bisa berkait erat dengan lagu Ebiet.
Begitu juga banjir yang merendam Manado dan sebelumnya Jakarta bahkan Sampang Madura, bukan semata-mata hukum air yang mengalir ke tempat yang lebih rendah. Tetapi air dalam banyak syair sebagai gumpalan molekul yang tidak bisa dibendung. Semakin dibendung, arusnya semakin tak tertandingi dan ini terbukti ketika sampah dan bangunan menghalau air, alirannya tumpah ke dalam dapur. Sekali lagi ini bukan semata-mata hukum air tetapi sebentuk peringatan kecil yang bermakna air.
Inilah sesungguhnya bumi yang gonjang-ganjing, langit kelap-kelap katon lir kincanging alis, risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig saking tyas baliwur ong. Kahyangan Suralaya benar-benar dalam keadaan gawat-keliwat liwat. Bathara Guru diuji kebijaksanaannya oleh rayuan maut Bathari Durga. Ketika yang melakukan Dewi Durga, Bathara Guru goyah bagaikan nyiur melambai karena terkena hempasan badai.
Maka jika gonjang-ganjing bumi ini berkait dengan tuhan yang mulai bosan melihat tingkah kita yang bangga karena dosa-dosa, lalu dengan media apalagi yang maha kuasa mendidik penduduk di kerajaan alam? Padahal, tak ada hidup yang sempurna tanpa kematian dan paling sempurnanya hidup manusia ketika ia berguna. Pada saat ia tidak berguna bahkan mencederai alam dan seisinya, di sinilah pantas ditanya apakah sese(beberapa)orang masih sempurna sebagai manusia?
Ketika alam murka seperti hari ini, manakala hutang negara bengkak serupa saat ini, bagaimanakah seharusnya penyelenggara negara bersikap agar rakyat tidak menjerit. Rakyat sebenarnya sudah tahu bahwa tak ada yang sederhana dari luka, pada bangsa ini. Namun jika nganga luka ini semakin digergaji, airmata mana lagi yang harus dialirkan untuk dan atas nama anak bangsa? Cobalah mengerti, sebelum alam memberikan pelajaran berseri dengan wajah yang lebih ngeri.
*Wartawan senior di Madura