Oleh : Abrari Alzael*
Ada ragam manusia yang (konon) tak bisa dilawan. Diantaranya, yang berkuasa, berharta, gila dan orang yang terlalu pintar atau bodoh sama sekali. Mereka nyaris tak terkalahkan dalam sengketa dan perseteruan apapun, kecuali alam yag akan membuat mereka lebih mengerti bahwa hidup tak bisa sendiri.
Salah satu yang teak terlawan karena kekuasaannya, antara lain, Jenderal Ratko Mladić. Ia seorang pemimpin tentara Serbia selama Perang Bosnia. Mladić melambangkan gerakan pembersihan etnis Kroasia. Tetapi akhirnya, ia didakwa PBB atas tuduhan genosida dan kejahatan kemanusiaan serupa pembantaian 7.500 jiwa di kota Srebrenica (1995).
Sesuai hukum alam, sejenderal-jenderanya jenderal, ia seorang manusia juga. Mladić pun sebagai jenderal, lenyap dari pandangan, menghilang, dan ketakutan pula setelah teman-temannya tertangkap sebagai penjahat perang. Serapi-rapinya jenderal, ia akan bernasib sebagaimana tupai, pandai melompat dan jatuh juga pada suatu ketika. Mladić pun akhirnya tertangkap (26 Mei 2011) dan diadili di Den Haag.
Mladić ditangkap oleh badan keamanan Serbia di Lazarevo, dekat Zrenjanin di wilayah Banat, Provinsi Vojvodina pada tanggal 26 Mei 2011. Penangkapannya dilakukan oleh 2 lusin pasukan khusus dari kepolisian yang menggunakan seragam hitam dan cadar, serta tanpa menggunakan tanda pengenal apapun.
Di ruang sidang berlapis kaca antipeluru, Mladic mengaku sedang sakit parah. Pria 69 tahun itu terlihat sulit menggerakkan tangan kanannya. Ia juga membutuhkan bantuan saat harus berdiri untuk mengenakan headset yang memperdengarkan terjemahan sidang dalam bahasa Serbia. Saat berbicara pun, lidahnya bergerak sangat lambat dan terdengar cadel.
Ia beberapa kali terkena serangan stroke selama 16 tahun buron. Tetapi dalam kondisi seperti itu pun, Mladić masih berkata kasar meski alam telah memberinya pelajaran bahwa fisiknya tak sepenuh jenderal, saat itu. “Saya Jenderal Mladic dan seluruh dunia tahu siapa aku,” katanya di akhir sebuah sidang.
Meski bukan jenderal dalam militer maupun polisi, Akil Mochtar saat memimpin MK punya jabatan serupa jenderal. Gagasan menarik yang dilontarkan dan pernah diucapkannya antara lain, “Ide saya, dibanding dihukum mati, lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor saja cukup” katanya suatu ketika. Kini, setelah kasus kejahatan kerah putih semakin membuktikannya sebagai salah seorang yang pantas diduga terlibat, bersediakah Akil memotong jarinya sendiri sebagai pertanggungjawaban dari ucapan yang pernah disampaikannya kepada public?
Mladić dan Akil memang dua hal yang berbeda tetapi implikasi yang timbul karena prilaku keduanya, sama-sama berdampak sengsara. Yang berbeda hanya soal masa. Mladić membunuh secara fisik sedangkan Akil menggergaji kehidupan yang membuat orang lain sengsara fisik, psikis, dan genetik. Tetapi Mladić dan akil hanya tamsil dari sekian banyak orang yang jauh lebih keji dan terpuji.
*Wartawan senior di Madura