Oleh : Ahmed David Anugerah*
Memindah huruf, dari Anas ke naas menjadi sesuatu yang berbeda. Pascapenetapan KPK sebagai tersangka, keringat Anas semakin deras mengalir. Sebagaimana orang terdahulu, seseorang seolah tidak berdaya ketika menjadi tersangka. Padahal, tersangka belum tentu bersalah dan tidak mesti melakukan yang dituduhkan. Apalagi, hukum di negeri ini kadang belum bisa tegak karena terdapat kekuatan yang memaksanya untuk lemah syahwat.
Apa yang terjadi pada Anas saat ini, nuansa politik terasa begitu nagras dibanding persoalan hukum. Ini bermula dari perseteruan di internal Demokrat yang tak bisa disembunyikan meski beberapa kali Mr Poltak menyatakan Demokrat aman-aman saja. Karena itu, posisi Anas saat naas, sedang diuji bukan hanya lantaran konflik internal. Tetapi Anas juga diuji dari perkataannya sendiri, “Satu rupiah saja Anas korupsi kasus Hambalang, gantung Anas di Monas.”
Dari sisi psikologi linguistik, perkataan Anas yang secara spontan itu tidak didesain dari awal. Tetapi mengapa Anas mengatakan seperti itu, pasti ada sebabnya. Anas dari sisi psikologi tertekan. Dalam keadaan tertekan, seseorang memiliki kecendrungan lepas kontrol dan mengatakan apa saja, disukai atau tidak dikehendaki banyak orang. Dus, soal gantung di Monas ini yang menjadi konsumsi publik meski substansi masalah sebenarnya bukan ini.
Mungkin, masih ingat mantan rekan bisnis Anas, M Nazaruddin, mantan bendahara umum Demokrat. Nazar mengungkap aliran dana Rp 100 miliar dari proyek Hambalang untuk memenangkan Anas sebagai Ketua Umum Demokrat pada Mei 2010. Uang itu diduga diserahkan PT Adhi Karya secara tunai melalui Direktur Utama PT Dutasari Citralaras Machfud Suroso, orang kepercayaan Anas.
Nazar menyebut Anas membagi-bagikan hampir USD 7 juta dollar kepada sejumlah dewan pimpinan cabang. Mantan Wakil Direktur Keuangan Grup Permai Yulianis saat bersaksi di Pengadilan Tipikor, mengaku pernah membawa uang sebesar Rp 30 miliar dan USD 5 juta dollar ke kongres Demokrat di Bandung. Terkait uang, Anas membantah, dan menegaskan kongres Demokrat bersih dari unsur politik uang. Dilihat dari angkanya, uang yang bertebar itu jauh lebih banyak dari pasal gratifikasi yang dituduhkan saat ini, sebuah mobil Harier senilai Rp 600-Rp 700 juta.
Nah, jika bukan Anas yang menebar, siapa sebenarnya yang menabur uang itu, intelejenkah yang sengaja dipesan pihak tertentu? Soal intelejen ini, mengingatkan kasus Shukoi. Intelijen Rusia, Glavnoye Razvedovatel’noye Upravlenie (GRU), menuduh Intelijen AS menyabotase Sukhoi Superjet SSJ100 yang jatuh di Indonesia. Sukhoi yang dikemudikan pilot yang punya jam terbang tinggi, Aleksander Yablontsev dan Co-Pilot Aleksander Kochetkov.
Tanggal 9 Mei 2012 lalu, tepat di hari kecelakaan Sukhoi, pesawat Amerika USAF C-17 tiba di Halim Perdanakusuma dan parkir di Apron Selatan. Rusia mempertanyakan mengapa pesawat USAF C-17 tersebut meninggalkan Halim setelah Sukhoi SSJ 100 menghilang dari radar ATC. Intelijen Rusia menjelaskan, 20 menit setelah lepas landas, pilot turun dari 10.000 kaki (3.000 meter) hingga 6.000 kaki (1.800 meter). Sukhoi mulai berbelok ke kanan dan turun kemudian menghilang dari layar radar pada ketinggian 6.200 kaki di daerah pegunungan, 60 km dari Jakarta.
Intelijen Rusia mengklaim, AS memakai teknologi khusus untuk mengacaukan sinyal pesawat naas tersebut sehingga menyebabkan kerusakan sistem Sukhoi yang sedang terbang. So, apakah soal Anas ini memiliki kemiripan dengan kasus Sukhoi?
*Jurnalis Televisi Madura Channel