Oleh : Abrari Alzael*
Seorang pangeran, pintar memanah. Pada gelap segulita apapun, anak panah yang dilesatkannya pasti mengenai sasaran. Pada situasi yang serumit apapun, anak panah yang dilepaskannya tak meleset dari bidikan.
Dalam sebuah atraksi, di depan banyak orang, pangeran mempertontonkan kemahirannya memanah. Semua orang bertepuk tangan karena tak ada anak panah yang tidak mengenai sasaran. Dilepas dari atas punggung kuda, dari bawah perut kuda, dalam posisi terlentang, tengkuran, dan dalam pose apapun, anak panah yang diarahkan ke sasaran menancap di tempat yang dibidik.
Dari ratusan orang yang menyaksikan adegan ini, hanya ada satu orang yang menganggap hal itu biasa. Tak ada yang istimewa dari atraksi pangeran. Siapa saja dapat melakukan itu jika hal ini biasa dilakukan sejak dari kecil, seperti pangeran itu.
Satu-satunya orang yang tidak bertepuk tangan itu adalah seorang penjual minyak tanah. Ia terbiasa menuangkan minyak tanah dari jerigen ke dalam botol tanpa carat. Kemudian penjual minyak tanah itu merasa apa yang dilakukannya luput dari perhatian. Padahal, seorang pangeran pun belum tentu bisa menuangkan minyak tanah ke lubang botol yang dialirkan dari jerigen tanpa carat.
Bagi penjual minyak keliling ini, tak ada yang luar biasa kecuali banyak orang yang menganggap besar untuk sesuatu yang tidak istimewa. Seperti kepala daerah hari ini yang bertepuk tangan karena pemerintah pusat telah memberikan anugerah lantaran kepala daerah dimaksud masuk ke dalam golongan yang berhasil. Padahal, kepala daerah dimaksud hanya melakukan hal kecil dengan membuang pekerjaan yang jauh lebih besar. Tetapi, rakyat tetap bertepuk tangan, mengelu-elukan.
Lalu pada atraksi sang pangeran, secara tiba-tiba orang menganggap pangeran itu layak menggantikan raja hanya berindikator jitu memanah. Padahal, tugas raja bukan hanya itu. Keterampilan memanah hanyalah salah satu hal kecil dari sekian banyak tugas raja. Raja harus bisa berbagi, berusaha mencari solusi dari masalah kemiskinan yang diderita rakyatnya. Kalau memanah menjadi salah satu syarat utama untuk menjadi raja, betapa malangnya nasib negeri itu, serupa tanah ini, negara kacuali, kacau berkeli-kali.
Pemimpin itu tidak muncul secara genetis tetapi ia dilahirkan sejarah dan tidak hanya kompeten dalam satu hal. Raja juga tidak lahir dari batu. Cerita Raja Bodoh yang dihukum gantung bersama patihnya, yang telah membuanya lebih tolol, adalah salah satu tamsil kepala daerah yang ceroboh. Tetapi, hari ini, masih banyak yang meniru dan melestarikannya. Personifikasi apalagi yang harus dikisahkan di jelang abad kebangkrutan ini?
*Wartawan Senior di Madura