BANGKALAN – Pertarungan antar calon anggota legislatif (caleg) dipastikan sangat ketat. Wajah caleg berasal dari incumben dan tokoh masyarakat yang sama-sama mempunyai basis massa. Dari 502 caleg yang berkompetisi, kesempatan mereka hanya sekitar 10 persen untuk bisa dilantik. Bahkan, sejumlah kalangan menilai biaya politik pada pemilu legislatif (pileg) mendatang, akan membutuhkan dana yang besar. Tak tanggung-tanggung biaya yang harus disiapkan caleg diperkirakan mencapai Rp 500 juta untuk bisa lolos.
Mahalnya biaya politik bukanlah sebuah jaminan. Sebab seluruhnya akan kembali ke masyarakat yang mempunyai hak pilih. Angka tersebut diprediksi hanya untuk kalangan caleg daerah, belum
termasuk yang ingin berlenggang ke provinsi atau pun ke senayan.
Jika caleg salah memilih tim sukses untuk mencari dukungan dari masyarakat, bisa dipastikan tidak akan jadi lolos menjadi anggota legislatif. Sehingga dana tersebut terbuang percuma. Anggaran itu biasanya dipakai untuk kegiatan sosialisasi memperkenalkan diri. Tujuannya untuk mengumpulkan massa agar memberikan sebuah dukungan. Selain itu, pembuatan alat peraga bukanlah sesuatu hal yang murah. Belum lagi untuk biaya pemasangan iklan di media massa agar caleg diketahui oleh masyarakat.
“Cost politk pada pertarungan pileg tahun ini diperkirakan lebih besar dibandingkan tahun 2009. Dalam perkembangan politik pun masyarakat sudah berpikir cerdas,” kata Koordinator LPKP Jawa Timur, Syukur.
Dia berpendapat apalagi sekarang masyarakat kecenderungannya mengarah pada transaksional. Artinya, jika ada uang transport akan datang ke TPS untuk menyampaikan aspirasi politik. Tetapi, bila tidak ada maka sebagian besar pemilih lebih cenderung akan tetap bekerja. Seperti halnya pemilih yang berprofesi sebagai nelayan dan kuli bangunan. Mereka akan condong memilih tetap bekerja, kalau dibandingkan pergi ke TPS yang notabene tidak mendapatkan apa-apa. Sebab, mereka tergolong kaum awam yang berpikir realistis dan timbal-balik.
Caleg membutuhkan biaya politik yang besar untuk bisa mengajak konstiuennya datang ke TPS. Jika tidak demikian, dipastikan perolehan suaranya bakal anjlok. Belum lagi untuk biaya sosialisasi seperti pembuatan alat peraga dan kaos. Upaya itu dilakukan agar masyarakat bisa tetap mengingat calonnya.
“Ya kalau buat caleg DPRD Kabupaten biaya politiknya diperkirakan bisa mencapai ratusan juta. Sementara untuk caleg DPR RI jauh lebih besar lagi. Bahkan bisa mencapai miliaran,” ungkapnya.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Bangkalan Sumambri mengatakan biaya politik tahun ini diprediksi lebih besar dari sebelumnya. Sebab, para caleg yang berkompetisi merupakan politisi yang sangat kuat. Backround tokoh dan incumbent menghiasi wajah perpolitikan calon DPRD Bangkalan.
“Namun, jika disuruh menghitung, pastinya tidak tahu berapa budget yang perlu dikeluarkan. Pastinya, biaya berpolitik itu harus ada untuk melakukan fungsi sosialisasi ke masyarakat,” ucapnya.