Oleh : Abrari Alzael*
Malapetaka, bencana yang muncul karena hukum alam, merupakan pelajaran berharga bagi siapapun yang dapat memberi makna atas hidup. Namun dalam kehidupan ini, hukum alam yang teoritis adakalanya tidak berjalan linear. Ada sesuatu yang sesekali tidak dapat dimengerti mengapa alam seperti saat ini adanya, tak ramah!
Pada tahun 2007, pemerintah di republik ini, mengumumkan bahwa Gunung Kelud dengan ketinggian 1.731 memiliki semburan yang melemah. Saat itu, daya sembur Kelud hanya 500 meter. Pemerintah pasti memiliki landasan teoritis mengapa kesimpulan itu dipilih, dan diumumkan kepada warga republik. Tetapi pada pertengahan Februari tahun ini, teori itu termentahkan saat semburan Kelud mencapai 3000 meter, atau naik kali lipat dari yang diprediksikan pemerintah pada tahun 2007.
Kejadian ini menegaskan bahwa hidup tidak semata-mata teori sebab selalu ada yang lain di luar kerangka teori dan Kelud telah memberi pelajaran bermakna. Oleh karena itu, pada satu momen Kelud yang sudah meletus lebih dari 30 kali sejak tahun 1.000 ini, perlu tafsir lain yang mungkin saja sangat tidak teoritis sebagaimana disampaikan Abidin abdul Gaffar (Ebiet G. Ade) ; mungkin tuhan mulain bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Dalam catatan sejarah, Kelud beberapa kali meletus. Misalnya, Kelud meletus pada tahun 1919 menewaskan sedikitnya 5.000 orang. Sebagian yang meninggal karena ini lantaran dialiri lahar panas. Kemudian Kelud meletus pada 1951, 1966, dan 1990. Dari tiga kejadian ini, korban meninggal diperkirakan 250 orang. Ini hanya membincang satu gunung dari kehidupan lainnya yang pasti jauh lebih besar dari Kelud. Kemudian terakhir (bila tidak terjadi lagi), Kelud meletus tahun ini dengan semburan yang sangat tinggi dibading pengumuman pemerintah republik tahun 2007.
Di luar Kelud, terdapat Sinabung, Merapi, Bromo, Semeru, dan gunung lainnya yang berpotensi meletus karena tergolong berapi aktif. Sekali lagi ini baru dari habitat gunung dan belum lagi laut, angin, tebing, sungai, tsunami, dan gempa. Maka sesungguhnya tidak sulit bagi penguasa jika hendak merusak ciptaannya meski tuhan bukan pesulap.
Oleh sebab itu, pada republik badai ini, penduduknya mesti berguru. Kesewenang-wenangan dalam memperlakukan alam itu tidak akan bertahan lama. Ratu Atut di Banten, adalah salah satu contoh real bahwa tidak ada yang abadi dalam kekuasaan. Tetapi penindasan terhadap alam, sesama dan seisinya, selalu melahirkan jawaban. Ketidakseimbangan sebagai prilaku, ia juga mengeluarkan jawaban pada akhirnya. Banjir di Jakarta yang datang berkali dan berubi-tubi, sebenarnya ayat kauniyat yang bisa dimengerti bagi siapapun yang ingin memahami.
Bila dihitung, jarak Kelud dari satu ledakan ke letusan berikutnya semakin dekat. Jika kedekatan itu semakin rapat, tidak menutup kemungkinan Kelud akan meletus lagi tahun ini. Sebab, ini sebagai kursus bagi siapapun yang tak ingin belajar dari kekeliruan prilaku bahwa negeri ini telah terlanjur disesatkan oleh orang-orang yang kata Ebiet, selalu salah dan bangga dengan bangga dengan dosa-dosa. Tetapi haruskah senantiasa badai yang dapat membuat kita mengerti? Oh sungguh terlalu!
*Wartawan senior di Madura