JAKARTA- Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden (Wapres) Muhammad Jusuf Kalla akhirnya mengumumkan anggota kabinetnya di halaman tengah Istana Kepresidenan Minggu (26/10) sore. Jokowi-JK mengumumkan 34 nama yang akan duduk dalam kabinet yang dinamai Kabinet Kerja. Pengumuman ini sendiri sempat molor selama satu jam sebelum akhirnya diumumkan pada pukul 17.00 WIB. Anggota Kabinet Kerja ini akan dilantik pada Senin (27/10) siang ini.
Jokowi mengaku harus berhati-hati dan tak mau asal dalam memilih kabinet. Karena itu, Jokowi harus memilah para pembantunya hingga hari keenam pasca-dilanik menjadi presiden. Hal ini menjadi pertimbangan yang utama.
Menurut Jokowi, orang-orang yang dipilihnya sebagai menteri merupakan orang-orang yang terpilih, orang-orang yang bersih, karena sebelumnya sudah dikonsultasikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). “Kita ingin akurat, dan tepat. Kita semua percaya kepada KPK dan PPATK,” tegas Jokowi di halaman Istana Negara, Jakarta, Minggu (26/10).
Pengumuman nama-nama menteri dalam Kabinet Kerja itu dihadiri oleh Ibu Negara Iriana Joko Widodo, istri Wakil Presiden, Ibu Mufidah Jusuf Kalla, dan para menteri yang kesemuanya menggunakan pakaian seragam baju berwarna putih dan celana panjang atau bawahan berwarna hitam.
Jokowi menegaskan, bahwa yang dipilihnya sebagai anggota menteri selain memiliki kemampuan di bidangnya, selain operasional, juga mempunyai kemampuan manajerial yang baik.
Mengenai perubahan nomenklatur sejumlah kementerian, Presiden Jokowi mengatakan, bahwa dua jam yang lalu telah hadir pimpinan DPR-RI yang memberikan jawaban atas surat permohonan pertimbangan yang dikirimkannya pada 21 Oktober lalu. “Alhamdulillah 2 jam lalu sudah mendapat pertimbangan,” katanya.
Sedangkan terkait lamanya proses penyusunan cabinet, Jokowi mengatakan, sesuai konstitusi diberi waktu 14 hari untuk menyusun kabinet. Namun pada hari keenam setelah dirinya dilantik dan Jusuf Kalla dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden sudah mengumumkan anggota kabinetnya. “Jadi masih 8 (delapan) hari dari batas maksimal yang diamanatkan oleh Undang-Undang Kementerian Negara,” jelasnya.
Sementara itu, pengamat politik Yunarto Wijaya mendukung nama kabinet yang dibentuk Presiden Jokowi-JK. “Kata kabinet kerja simpel, bukan kata sifat tapi kata kerja, ini mencerminkan Jokowi,” kata Yunarto di Jakarta, Minggu (26/10).
Yunarto menilai suasana komunikasi politik yang dilakukan Jokowi saat menyampaikan menterinya cukup santai. Padahal sebelumnya nama calon menteri diumumkan dengan formal.
“Beliau menyebutkan sepak terjang dan track record, itu menegaskan saya (Jokowi) mengenal,” katanya sambil menambahkan, karena nama-nama ini wajar sejumlah pihak ada yang kecewa karena tak masuk.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Global Future Institute, Hendrajit menilai menteri yang bersih dari kasus korupsi dan jerat hukum tidak cukup. Calon menteri juga harus menguasai strategi dan teknis sektor yang dipegangnya. “Orang bersih saja tidak cukup. Ia bisa terjebak dalam sistem yang salah ketika menjabat kalau dia tidak mengerti lingkup strategi dan teknis permasalahan. Nantinya, ia akan menjadi tumbal dari rusaknya sistem yang salah,” tutur Hendrajit dalam diskusi Tarik Ulur Posisi Menteri: Kemana Arah Kabinet Jokowi-JK di Galeri Cipta Taman Ismail Marzuki di Jakarta, Minggu (26/10).
Hendrajit mencontohkan mantan Menteri Energi dan sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik dan mantan kepala SKK Migas Rubi Rudiandini yang terjerat kasus korupsi dan suap. Menurut dia, kedua orang tersebut adalah korban dan tumbal karena tidak mengerti teknis, strategi, pola korupsi dan mafia migas dalam kementerian ESDM. “Jero Wacik, ia bersih, lugu, paham teknis, tapi tidak mengerti lingkup strategis. Ia malah jadi tumbal karena mafianya ada di eselon 2 dan 3-nya,” katanya. (GAM/AJI/ABD)