BANGKALAN – Saat ini laju tingkat pertumbuhan ekonomi kabupaten Bangkalan sudah lebih dari 6 %, dengan angka sementara PDRB kabupaten tahun 2013 mencapai 3.891.566,84 (Sumber Data: BPS Kabupaten Bangkalan Tahun 2012). Meskipun tiga tahun tingkat pertumbuhan ekonomi masyarakat semakin meningkat. Namun tingkat jumlah pengangguran kabupaten Bangkalan juga merangkak naik.
Tahun 2011 lalu, jumlah yang semula hanya 261 orang, meningkat pada tahun 2012 menjadi 651 orang. Peningkatan drastis itu juga terjadi pada tahun 2013 yang bertambah menjadi 1.308 orang ( Sumber Data: BPS Kabupaten Bangkalan Tahun 2012).
Hal itu membuktikan bahwa prestasi tingkat pertumbuhan ekonomi kabupaten Bangkalan tidak mampu menyerap jumlah pengangguran (unemployment) yang ada. Hal itu diakui oleh Ketua Cabang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bangkalan, M Syafii. Padahal dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi persaingan ketat dalam bidang ekonomi MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) di tahun 2015.
Tantangan yang dihadapi, arus liberalisasi pasar perdagangan dan tenaga kerja yang tidak bisa dipungkiri. Mau atau tidak mau, masyarakat Madura khususnya di Bangkalan harus siap bersaing menghadapi MEA. Di era MEA, persaingan antara produk dan tenaga kerja lokal dengan produk asing serta tenaga kerja asing harus ada upaya strategis untuk menciptakan produk lokal yang unggul dan kualitas. Kemudian tenaga kerja lokal yang mampu bersaing secara global. Dengan keadaan jumlah penganguran yang semakin tinggi, menunjukkan bahwa kualitas tenaga kerja masih kecil. Dengan kata lain, upaya pemerintah daerah selama ini untuk mengembangkan kualititas tenaga kerja masih belum optimal.
“Harus ada upaya dan Langkah yang strategis serta cepat untuk menghadapi MEA di tahun 2015, meski terkesan terlalu bersikap reaktif. Pemerintah kabupaten Bangkalan harus mampu menunjukkan kesiapannya,” terang Syafii.
Dari itu harus ada inisiatif dan transformatif yang efektif untuk menciptakan kondisi yang siap untuk menghadapi MEA di tahun 2015. Fundamen yang perlu diubah untuk melakukan langkah yang strategis ialah melakukan tranformasi struktur ekonomi. Yang bisa diupayakan oleh pemkab Bangkalan dengan melakukan pengembangan struktur ekonomi daerah yang mengandalkan kepada usaha mikro, kecil dan menengah serta koperasi. Selain itu pula, pengembangan pendidikan kejuruan dan melakukan upaya terhadap peningkatan terhadap sektor pertanian dan industri pariwisata yang saling terintegrasi.
Di samping itu, UMKM dan koperasi harus menjadi tumpuan bagi masyarakat kelas kecil menengah untuk memperbaiki kehidupan ekonomi masyakat. Sehingga perlu dilakukan upaya untuk mengembangkan usaha mereka. Pentingnya, agar produk lokal bisa mampu bersaing di pasar bebas Asean. Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja atau mampu mengurangi tingkat penganguran.
Upaya pengembangan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah kepada UMKM dan koperasi agar tidak kalah dalam persaingan, sedini mungkin bisa membantu mereka dengan subsidi bunga dan bantuan terhadap biaya produksi usaha UMKM dan koperasi. Pemberian bantuan biaya produksi bagi pelaku UMKM dan koperasi bertujuan untuk membantu meningkatkan produktivitas dan mampu menekan harga jual produk supaya mampu bersaing dengan produk asing.
“Subsidi bunga sendiri diharapkan membantu para UMKM dan Koperasi untuk memberikan peringanan pinjaman yang dilakukan oleh UMKM dan Koperasi kepada lembaga financial (bank dan Non bank) yang dipergunakan untuk pengembangan usaha,” jelasnya.
Mendorong Riset UMKM dan Koperasi Pengembangan produktivitas kearah inovasi bisa diwujudkan, apabila pemerintah mendorong UMKM dan koperasi melakukan riset agar bisa melakukan sebuah pengembangan produk yang inovatif. Seperti halnya, pengembangan e-chanel marketing dan penyiapan Informasi e-chanel marketing agar bisa memasarkan produk yang dihasilkan oleh para UMKM dan Koperasi. Baik itu pemesaran di pasar lokal, domestil ataupun pasar global, dan juga dibantu dengan kesedian informasi yang mampu membangun kesadaran akan manfaat, peluang dan dampak dari pasar bebas asean.
“Pemkab harus bisa memberikan pelatihan Sumber Daya Manusia sesuai dengan kebutuhan UMKM, yang bertujuan meningkatkan kualitas para pelaku usaha kecil,” ucapnya.
Sementara itu, di sektor pertanian dan perikanan masyarakat disebutkan bahwa kontribusi pertumbuhan ekonomi kabupaten Bangkalan dari sektor pertanian masih minim. Sebab, pertumbuhannya masih mencapai 0,05 persen, sedangkan sektor perdagangan 0,53 persen serta sector industri 0,5 persen.
Keadaan ini menunjukkan, banyaknya lahan pertanian yang belum tergarap dengan baik. Kemudian, upaya pemerintah tidak mampu memberikan peningkatan yang produktif di sektor pertanian dan perikanan. Padahal, kedua sektor ini sangat bisa dijadikan sebagai sektor penguatan produksi ekonomi kerakyatan. Itu bisa dilakukan dengan langkah awal strategis pengembangan riset pada setiap komoditi pertanian dan komoditi ikan laut. Riset yang dilakukan selama ini dalam upaya untuk melakukan pengembangan hasil pertanian belum sampai pada riset pengembangan hasil produksi pertanian dan perikanan.
Pemerintah harus bisa memberikan bantuan teknologi kepada para petani dan nelayan supaya tercipta kondisi yang produktif. Sebab, selama ini para petani dan nelayan masih melakukan kegiatannya secara tradisional dalam kegiatan produksinya. Dampaknya, cara tradisional berpengaruh terhadap tidak efisiensi kegiatan produksi yang dilakukan oleh para petani dan nelayan. Kondisi itu memaksa para petani dan nelayan lebih banyak menguras waktu yang cukup lama.
Oleh karena itu, bantuan biaya sangat dibutuhkan oleh para masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Sebab petani masih didominasi oleh masyarakat kelompok menengah kebawah, dengan bantuan biaya dari pemerintah daerah yang diberikan kepada kelompok petani akan membantu untuk melakukan peningkatan produksi.
Belum lagi, di bidang potensi wisata bahari dan alam yang cukup besar yang di miliki Bangkalan belum dikelola secara maksimal. Selama ini, wisata yang begitu diminati oleh pengunjung masih berkutat di wisata religi. Padahal, sebenarnya wisata bahari ataupun wisata alam jika diperhatikan dan dikembangkan dalam peningkatan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan mampu memberikan nilai tawar pada para pengunjung luar ataupun lokal.
“Semua kaitannya erat, jika bisa dikelola dengan baik bisa menjadi ekternalitas positif kepada para pelaku UMKM dan koperasi. Terutama pada pelaku usaha jasa kuliner dan usaha hasil pertanian dan perikanan,” paparnya. (MOH RIDWAN)