Memasuki pekarangan rumahnya yang pas berada di pinggir pantai, sayup-sayup sudah terdengar suara rintihan Nuril. Ia mengerang kesakitan sambil memanggil ibunya yang sebenarnya memang berada di dekatnya.
“Allah… Buk, Sakek buuukk.. tak koat buuk,” rintihnya dalam jerit yang sudah tidak terlalu bertenaga. Gumpalan sebesar buah kelapa di siku lengan kanannya membuat ia tersiksa begitu rupa. Untuk ikut merasakan deritanya, seseorang hanya perlu milihat matanya yang cekung dan redup.
Saat tim Said Abdullah Institute (SAI) mengunjungi mereka Kamis siang (9/6/2016), tubuh Nuril terlihat semakin kurus. Jemari, lengan dan tungkai kakinya nyaris menyerupai penderita penyakit polio. Tulang-tulangnya seperti tak sabar hendak menembus tipis kulitnya.
“Mohon maaf ibu, kami menggangu. Kami ingin menjenguk Nuril, sudah adakah kesehatannya mengalami kemajuan?” tanya Januar Herwanto, Direktur Said Abdullah Institute (SAI) yang datang bersama beberapa rekannya.
“Ya beginilah pak, setiap saat ia mengerang kesakitan. Dan kami hanya bisa menungguinya seperti ini,” jawab Siti Maryam, ibunda gadis bernama lengkap Nuril Khairiana ini.
Menurutnya, sedianya gadis belia berumur 18 tahun ini sekarang sudah kelas 1 Sekolah Menengah Atas. Namun karena sakit yang dideritanya sejak tahun 2013 lalu, ia hanya bisa tidur telentang di ruang tamu rumahnya tidak cukup besar.
“Dulu dia mondok di Pondok Pesantren Al-Amin Prenduan. Di sana ia menempuh pendidikan setingkat MTs. Tapi ya terpaksa harus berhenti karena kayak begini,” ujar Siti Maryam.
Siang dan malam ia bergantian menjaga Nuril dengan kedua anaknya yang lain. Itu harus ia lakukan sehari-hari sambil mencari nafakah. Sebab suami yang menjadi tulang punggung keluarganya sudah meninggal dunia sekitar satu tahun lalu.
Upaya untuk mengobati Nuril sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan. Bahkan Senin lalu (6/6/2016) Nuril baru saja pulang setelah dirujuk ke Rumah Sakit dr. Soetomo Surabaya. Menurut Maryam dokter menyatakan tumor tulang ganas yang diderita Nuril sudah menjalar ke jantung dan paru-parunya.
“Sekarang kami berharap, paling tidak ada obat penghilang nyeri saja yang bisa membuatnya tenang dan tidak kesakitan. Kalau bisa, kami minta tolong bagaimana cara mendapatkannya,” pinta Maryam dengan wajah pasarah.
Mendengar permintaan ini, Januar Herwanto mengaku akan mengusahakan agar pihak Puskesmas, atau paling tidak perawat di desa setempat segera memeriksa dan memberikan Nuril obat dimaksud. “Habis dari sini, kami akan langsung ke Puskesmas Saronggi. Semoga bisa segera ditangani,” harap Januar.
Sebelum pulang, Januar menyampaikan salam MH. Said Abdullah, anggota DPR RI Fraksi Perjuangan kepada Keluarga Nuril. “Mohon maaf, Bapak tidak bisa datang langsung. Beliau hanya menitipkan bantuan ini, semoga bisa membantu pengobatan Nuril,” ucap Januar sembari menyerahkan amplop berisi uang sebesar Rp 10.000.000,-
Setelah itu, rombongan SAI pulang diiringi rintihan Nuril yang masih sama seperti saat mereka baru saja datang memasuki pekarangan rumahnya. (*)