
SUMENEP I koranmadura.com– Rumah Sakit Daerah (RSD) Moh. Anwar Kabupaten Sumenep kembali dikeluhkan. Kali ini berkaitan dengan lambannya proses diagnosa yang dilakukan oleh pihak rumah sakit kepada salah satu pasien asal Desa Aengbaja Kenek, Bluto, Sutip (62). Sampai empat hari berada di rumah sakit milik daerah itu, penyakit yang dideritanya dibiarkan tanpa kepastian.
“Saya sungguh kecewa terhadap pelayanan rumah sakit ini. Lambat dan berbelit-belit. Sebab selama 4 hari berada di sini, penyakit bapak mertua saya tidak diketahui secara pasti. Padahal sudah dilakukan diagnosa beberapa kali,” akui Syaiful Harir, menantunya, Selasa (19/7) dini hari saat ditemui di ruang zaal bedah, tempat bapaknya dirawat.
Pria yang akrab dipanggil Aying itu menceritakan tentang lambannya pihak rumah sakit. Katanya, bapak mertuanya itu masuk rumah sakit pada Jum’at (15/7) malam lalu dengan membawa surat rujukan dari salah satu dokter spesialis. Sesampainya di rumah sakit, pada hari Sabtu bapak mertuanya itu di USG di laboratorium. Namun pihak rumah sakit belum memastikan hasil USG tersebut. Kemudian pihak rumah sakit meminta keluarga untuk bersabar. Katanya, menunggu pada hari Senin, karena akan dilakukan diagnosa kembali melalui rontgen.
“Tadi pagi sekitar jam 09.00 WIB sudah dilakukan pemeriksaan melalui rontgen. Katanya jam 20.00 WIB tadi, hasilnya sudah bisa diketahui. Namun, sampai titik jam 22.00 hingga sekarang tak kunjung memberikan informasi terkait hasil diagnosa penyakit bapak mertua saya. Setelah saya datangi lagi, ternyata masih harus menunggu besok pagi,” jelasnya
Kekecewaan Mantan Ketua PC IPNU Sumenep itu pun terlihat jelas. Bahkan ia mengancam akan membawa pulang bapaknya itu. “Gimana tidak marah wong sampai detik ini tidak ada kepastian terkait penyakit yang diderita bapak saya, padahal sudah berkali-kali dilakukan pemeriksaan secara medis. Kami hanya ingin kepastian penyakit yang diderita bapak saya. Apa jangan-jangan sengaja diulur-ulur. Jika pelayanan askes agak mending, kami bayar lo,” katanya dengan nada kecewa.
Aying dengan tegas menyinggung tentang reformasi pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Bupati hingga sampai mengantor di rumah sakit. “Seharusnya Bupati ngantor setiap hari biar tahu, kalau ngantornya hanya mengejar citra, lebih baik gunakan energinya untuk kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat. Sebab rumah sakit ini tidak layak menampung pasien,” pungkasnya.
Ayink meminta, jika belum ada kepastian sampai besok, pihak keluarga akan memindahkan pasien ke rumah sakit yang lebih layak. “Jadi, silahkan bilang secepatnya jika rumah sakit ini memang tidak bisa mendeteksi penyakit pasien, biar kami pulang saja untuk dipindahkan ke rumah sakit yang lain agar segera dilakukan tindakan medis untuk melakukan penyembuhan. Sebab kami khawatir penyakit yang diderita bapak saya ternyara parah. Apalagi, kami setiap detik ada di sini bayar,” tegasnya.
Sementara itu, menanggapi keluhan pasien itu, saat Koran Madura menghubungi Direktur RSD Moh. Anwar, Fitril Akbar belum ada jawaban. Karena waktunya dini hari, Fitril Akbar mungkin sedang istirahat. (SOE)