SUMENEP, koranmadura.com – Ratusan warga Desa Pore, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, yang datang ke kantor DPRD setempat untuk mencari keadilan, Sabtu (24 Desember 2016) berakhir ricuh.
Pantauan di lapangan, kericuhan itu berawal saat salah satu warga yang tidak menginginkan Ghafur diangkat sebagai aparat desa, keluar dari ruang Komisi I DPRD setempat. Setelah itu, salah satu warga yang dinilai menjadi aktor permasalahan tersebut dipukul. Bahkan antar warga sempat terjadi kejar-kejaran hingga di depan Kantor Polsek Kota, yang tak jauh dari kantor DPRD Sumenep.
“Penyebabaya hanya satu, sebagian warga tetap ngotot Ghafur tidak diangkat menjadi aparat desa,” kata Bambang Supratman, perwakilan warga Desa Pore.
Menurutnya, amanat warga sudah tampak sejak rapat dilakukan di dalam Komisi I. Bahkan, kata Bambang, sebelum rapat selesai sebagian warga mencoba ingin memasuki ruangan Komisi I. “Itu untuk menyeret salah satu warga yang menjadi aktor. Karena berkat ulah dia persoalan ini sampai ditingkat DPRD,” tegasnya.
Menurut versi mayoritas warga, pengangkatan Ghafur dinilai legal sesuai dengan peraturan yang ada. Sehingga, kaum minoritas dinilai tanpa mempunyai landasan yang kuat untuk menolak persoalan tersebut. “Meskipun dI tingkat Desa, mereka sering menjadi ulah. Ini yang tidak disenangi warga,” jelasnya.
Kericuhan mèreda setelah kaum minoritas berhasil melarikan diri ke luar gedung DPRD. Bahkan sebagai warga minoritas lari ke kantor Mapolsek Kota. “Sudah Biarkan saja, nanti kita tunggu di Desa Pore,” cetus salah satu warga. Setelah itu ratusan warga membubarkan diri dengan damaI. (Baca: Dua Kubu Warga Pore Datangi Kantor Dewan) (JUNAIDI/MK)
