SUMENEP, koranmadura.com– Sejumlah nelayan di Kecamatan/Pulau Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menjerit lantaran harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi meroket sejak beberapa pekan lalu.
Ketua Asosiasi Nelayan Indonesia (ANSI) Kabupaten Sumenep, Affandi Maghrib mengatakan, saat ini harga BBM jenis premium tembus Rp10 ribu per liter, sedangkan BBM jenis solar berada di angka Rp7500 per liter.
“Kalau seperti ini nelayan dipastikan merugi. Karena biaya operasional tidak sebanding dengan hasil tangkapan ikan,” katanya, melalui sambungan telepon selulernya, Sabtu (24 September 2016).
Menurutnya, kondisi seperti ini sudah berlangsung sekitar sebulan yang lalu. Pertumbuhan nelayan setiap tahun di Masalembu cukup drastis, secara otomatis kebutuhan BBM bagi nelayan setiap harinya cukup tinggi hingga memcapai ratusan, bahkan ribuan liter. “Bagi nelayan, konsumsi BBM sangat tinggi hingga mencapai 70 persen dibandingkan biaya operasional yang lain,” jelasnya.
Dikatakan, salah satu faktor melambungnya harga BBM subsidi itu disebabkan karena stok diberbagai pengecer menipis. Sementara pengiriman BBM sebagian besar menggantungkan terhadap cuaca. Jika cuaca lagi tidak bersahabat, otomatis pengiriman tidak dilakukan.
Kendati demikian, lanjut Affandi, nelayan terus memaksakan diri untuk tetap beroperasi. Karena saat ini hasil tangkapan ikan melimpah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Sekarang musim ikan, sehingga hasil tangkapan nelayan dipastikan akan mengalami peningkatan. Tapi, nelayan masih banyak yang rugi akibat biaya operasional yang cukup mahal,” tegasnya. (JUNAIDI/MK)
