SAMPANG, koranmadura.com – Selama hampir 4 bulan ini, tokoh muda asli Sampang yang akan maju dalam Pilkada Sampang 2018 mendatang, Moh. Hasan Jailani atau yang akrab disebut Mamak terus instens turun ke bawah (turba) menyapa masyarakat hingga ke pelosok desa.
Mulai kalangan ulama’ khos, kiai langgaran, tokoh masyarakat, hingga masyarakat grass root disowani guna menjalin silaturahmi. Selama masa itu pula, tidak sedikit dorongan, dukungan dan saran yang muncul agar Mamak terus istikamah bersilaturahmi dan memantapkan diri terus maju di gelanggang Pilkada Sampang.
Lalu, apa kata orang-orang yang mendampingi Mamak selama turba? Sopir Mamak, Pak Kurni menilai, Mamak sosok orang yang tidak membeda-bedakan status orang. Mamak selalu memposisikan dirinya sama dengan orang lain.
“Ibarat kata pepatah, ringan sama dijinjing berat sama dipikul. Pernah suatu ketika saat turba ke wilayah Karang Penang, mobil yang kita tumpangi mogok saat di jalan tanjakan, Mamak ini turun dan ikut mendorong mobil, dan itu tidak hanya satu kali terjadi. Coba bayangkan,” ujarnya, Jum’at (9 September 2016).
“Bahkan, usai kegiatan turba, saya kerap diminta saran oleh Mamak. Tahu apa saya soal itu, saya cuma sopir,” sambungnya merendah.
Hal senada juga diungkapkan oleh Habas yang juga kerap mendampingi Mamak saat turba. Menurutnya, Mamak sosok orang yang haus saran dan suka dikritik. Siapa saja akan diminta saran dan kritikan oleh Mamak.
“Tidak hanya ulama dan para tokoh yang diminta saran kritik tapi siapa pun. Jadi benar kalau sopirnya saja dimintai saran dan kritik,” kata Habas.
Diceritakan olehnya, Mamak tipe orang yang mudah bergaul dan sopan, dengan kesopanan itu membuat orang menjadi suka berteman dengannya.

“Mamak tipe orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Pernah pada saat turba, Mamak dan kawan-kawan berjalan kaki sekitar 2 kilometer melewati jalan setapak berlumpur dan licin. Mamak tidak memaksa naik sepeda motor tapi Mamak memilih jalan kaki bareng-bareng,” kata Habas mengakhiri ceritanya dengan nada kagum.(DJIE/MK)