SUMENEP, koranmadura.com – Draf struktur organisasi tata kerja (SOTK) Pemkab Sumenep yang telah diserahkan kepada DPRD setempat kembali mendapat sorotan. Kali ini, karena pariwisata dan kebudayaan dijadikan satu dinas.
Dalam draf SOTK yang merupakan hasil kajian akademik Universitas 17 Agustus itu, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) “dipecah” menjadi dua dinas. Pertama dinas pemuda dan olahraga; dan kedua dinas pariwisata dan kebudayaan.
Menyikapi pemisahan tersebut, Ketua Komisi I DPRD Sumenep, Darul Hasyim Fath mengaku tak ada masalah jika dinas pemuda dan olahraga dijadikan satu. Sebab pemuda dan olahraga memang berkaitan.
Namun, menurut politisi PDI Perjuangan itu, menjadi kurang tepat jika sektor pariwisata digabung dengan kebudayaan. Harusnya kebudayaan tak digabung dengan pariwisata, tapi dengan pendidikan. Sementara pariwisata jadi dinas tersendiri.
“Harusnya kalau mau digabung itu, dinas pendidikan dan kebudayaan. Sementara Pariwisata menjadi dinas lain,” tukas politisi asal Kepulauan Masalembu itu, Selasa (13 September 2016).
Draf yang akan segera dibahas di Pansus DPRD itu sebelumnya juga mendapat sorotan dari salah satu anggota BP2D DPRD Sumenep, Abrari. Sebab, Pemkab tak menghitung wilayah keluatan sebagai bagian dari kabupaten paling timur Pulau Madura ini dalam draf. Sementara Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) tetap ada. (Baca: Eksekutif Wajib Perbaiki Draf SO)
Alasan pemilihan Untag yang melakukan kajian akademik juga dinilai tak ilmiah. Pasalnya ketika ditanya alasan memilih Untag, menurut pria yang akrab disapa Abe itu alasan Pemkab ternyata hanya karena Bupati Sumenep, A. Busyro Karim, alumni Untag. (Baca: Terkait SO, Alasan Memilih Untag karena Bupati Alumninya)
Saat dikonfirmasi semua itu, Kabag Organisasi Setkab Sumenep, A. Basith memilih irit bicara. Ia tak enggan berkomentar kepada awak media soal draf SOTK. Dia hanya menegaskan, bahwa draf tersebut bukan hasil plagiasi. (FATHOL ALIF/MK)
