SUMENEP, koranmadura.com – Setelah menemui puluhan mahasiswa dan berdialog dengan mereka yang melakukan aksi demonstrasi di depan kantornya, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora), Sofiyanto, mengatakan sudah membuat empat kesimpulan.
Baca:
https://www.koranmadura.com/2017/01/19/inilah-daftar-kegagalan-kadisbudparpora-sumenep-versi-mahasiswa/
Pertama, menurut mantan Kabag Humas dan Protokol Setkab Sumenep itu, evaluasi mahasiswa terhadap kinerjanya selama ini akan dijadikan formulasi program Disbudparpora untuk dilaksanakan.
“Dalam melaksanakan program, tentunya Disbudparpora akan melaksanakan sesuai ketentuan dan RPJMD. Itu kesimpulan kedua,” tukasnya kepada wartawan, Kamis, 19 Januari 2017.
Kesimpulan ketiga, Disbudparpora akan melakukan pemberdayaan terhadap pemuda sebagaimana menjadi salah satu tuntutan mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Peduli Sumenep (Kompas).
Dalam aksinya, Kompas menilai Disbudparpora Sumenep tidak melakukan pemberdayaan kepada organisasi kepemudaan. “Sehingga organisasi kepemudaan terlantar,” ungkap salah satu orator aksi, Bisri.
Sedangkan kesimpulan keempat, sambung Sofi, pihaknya akan berupaya menyatukan seniman dan budayawan. “Kita tidak bisa serta merta, karena di sini ada dewan kesenian. Kami tidak bisa terlalu jauh intervensi kepada dewan kesenian. Kami hanya bisa memotivasi,” tambahnya.
Baca:
https://www.koranmadura.com/2017/01/17/visit-2018-pemkab-sumenep-diprediksi-jatuh-ke-lubang-yang-sama/
Untuk diketahui, selain menyoal konsep pengembangan wisata di Sumenep dalam rangka menyambut visit 2018, mahasiswa juga menilai Disbudparpora tidak mampu memediasi budayawan dan seniman, sebagai corong pengembangan pariwisata di kabupaten paling Timur Pulau Madura ini. (FATHOL ALIF/BETH)
