SUMENEP, koranmadura.com – Kunjungan kerja (Kunker) Anggota DPRD Sumenep Madura, Jawa Timur, lancar karena ditalangi. Bahkan Ketua DPRD Sumenep Herman Dali Kusuma mengaku menalangi biaya kunker hingga mencapai Rp 800 juta.
“Kadang mencapai Rp 600 juta dan kadang tidak sampai. Itu sudah berlangsung selama kurang lebih 2,5 tahun terakhir,” kata Herman Dali Kusuma, Ketua DPRD Sumenep.
Dana talangan itu merupakan dana pribadi yang diambil dari kekayaannya sendiri. Secara aturan, kata Herman, pemeberian dana talangan diperbolehkan, karena bersumberkan dari dana pribadi.
Kendati demikian, dampak dari pemeberian dana itu pihaknya sering berseteru dengan keluarganya. “Ini bukan karena politisi, melainkan karena panggilan jiwa. Harapannya semua agenda kedewanan jalan semua,” jelasnya.
Sementara anggaran kunker yang disediakan oleh pemerintah baru bisa dicairkan setelah surat pertanggungjawaban (SPj) selesai. “Intinya kalau SPj sudah selesai, ya anggaran baru bisa dicairkan,” jelasnya.
Direktur Sumenep Independen (SI) Syahrul Gunawan mempertanyakan kekayaan Ketua DPRD Sumenep itu. Pasalnya, gaji sebagai anggota dewan tidak mungkin mencapai Rp20 juta setiap bulan. “Setahu saya gaji Angggota DPRD Sumenep hanya sekitar Rp16 jutaan ini,” katanya.
Kendati demikian, dirinya tidak akan berburuk sangka. Saat ini dirinya tidak mengetahui aktivitas H Herman Dali Kusuma selain menjadi Ketua DPRD Sumenep. “Kami harap adanya kebijakan itu berdampak kepada kinerja dewan kedepan. Sehingga tidak hanya terkesan selalu jalan-jalan dengan bermodus kunker seperti yang selama ini terjadi,” tegasnya. (JUNAIDI/RAH)