SUMENEP, koranmadura.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep dalam beberapa tahun terakhir serius menggarap pariwisata baru. Puncaknya, tahun depan pemkab akan mendatangkan wisatawan ke ujung timur Pulau Madura.
Visit 2018 mengusung dua destinasi wisata, yakni Gili Labak di Kecamatan Talango, dan Gili Iyang di Kecamatan Dungkek, meskipun kedunya hingga saat ini belum memiliki Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP).
Sebelum dua objek wisata tersebut unggul, Kabupaten Sumenep terkenal dengan Pantai Lombang dengan cemara udangnya yang langka. Saat ini, kondisi pantai yang berada di Kecamatan Batang-Batang itu sudah tidak terawat. Pantai yang dikelilingi pohon cemara udang itu dipenuhi kotoran dan sampah.
“Sungguh disayangkan, pemerintah daerah terkesan melupakan sejarah. Padahal, Pantai Lombang yang telah dikenal sejak puluhan tahun silam bahkan bisa mengharumkan nama Sumenep kepada wisatawan,” kata Masdawi, tokoh Kecamatan Batang-Batang, Rabu, 10 Mei 2017.
Pantai Lombang telah menyumbangkan pendapatan asli daerah (PAD) setiap tahun. Sementara Gili Labak dan Gili Iyang belum bisa memberikan kontribusi kepada daerah. Mestinya, kata Masdawi, pemerintah daerah mengutamakan Pantai Lombang, baik dari pengelolaan dan pembenahan fasilitas.
Sebab, saat ini fasilitas seperti tempat penginapan, WC dan penyediaan air bersih belum maksimal di Lombang. Dengan begitu pengunjung merasa enggan untuk datang ke pasir yang diselimuti hamparan pasir putih itu.
“Coba lihat saat ini, Pantai Lombang kotor, baik kotoran kuda maupun sampah sisa makanan. Lalu ke mana PAD yang didapat setiap tahun kok pengelolaannya tetap seperti itu (tidak ada perubahan dari tahun ke tahun),” jelasnya.
Kualitas infrastruktur juga belum memadai dan perlu penataan ulang. ”Kalau memang serius, pemerintah daerah membangun Pantai Lombang, wong tanahnya sudah jelas milik pemkab. Kalau dibiarkan seperti ini, mana mungkin ada wisatawan yang akan berkunjung,” ungkap wakil rakyat di gedung parlemen itu.
Terpisah, Bupati Sumenep, A Busyro Karim mengatakan, Visit 2018 bukan akhir dari pengelolaan wisata di Sumenep, melainkan awal dari keseriusan pemerintah daerah untuk mengelola destinasi wisata. ”Kita harus sepakati bersama jika Visit 2018 merupakan awal bukan akhir pengelolaan wisata,” katanya.
Oleh sebab itu, semua masukan akan terus ditampung dan segala kekurangan akan terus dibenahi termasuk sejumlah destinasi wisata yang belum mengantongi TDUP. ”NTB sudah 30 tahun silam digagas baru bisa sukses seperti saat ini. Masukan semua kami akan tampung,” tandasnya. (JUNAIDI/MK)