Beruntung datang bulan Ramadhan tak lama usai Pilkada Jakarta dan daerah lainya, kata seorang kawan. Dengan kedatangan Ramadhan atmosfir panas Pilkada Jakarta dan daerah lainnya diharapkan turun kembali menuju tensi normal. Berbagai polemik bernada kasar, berupa makian dan sumpah serapah diharapkan kembali mencair berubah menjadi keramahan khas masyarakat negeri ini.
Perbedaan pilihan politik sempat membelah masyarakat negeri ini. Bukan hanya antar pemeluk agama. Di antara sesama ummat beragamapun terjadi perpecahan tajam luar biasa sehingga sempat identitas keramahan negeri ini menguap tanpa bekas.
Ya, melalui moment Ramadhan, yang diyakini mayoritas penduduk negeri ini yang beragama Islam sebagai bulan suci, kemampuan kontrol dan pengendalian diri masyarakat kembali berfungsi. Kebersamaan sebagai warga negara tertata kembali. Bukankah di bulan penuh berakah ini salah satu unsur paling penting yang dikedepankan pengendalian diri? Tidak gampang marah, tidak mudah emosi, tidak mudah melemparkan prasangka apalagi fitnah dan perilaku buruk lainnya. Begitulah muatan spiritual dan moral Ramadhan.
Tak perlu lagi menghiasi wall facebook, twitter dan lainnya dengan kebencian, manipulasi data dan fitnah. Buang prasangka yang membangkitkan amarah dan permusuhan. Jangan lagi ada permusuhan dan dusta di antara anak bangsa.
Yang juga tak kalah penting semangat Ramadhan terkait kepedulian antara sesama diharapkan mengembalikan kebersamaan antar masyarakat. Yang sebelumnya saling berseberangan karena beda dukungan, berbarengan kembali. Berkumpul bercengkrama kembali. Bukankah Ramadhan mengajarkan semangat persaudaraan? Apalah artinya puasa jika masih menganggap orang yang berbeda pilihan sebagai seteru. Lagi-lagi inilah keberuntungan kedatangan Ramadhan.
Ibadah puasa memang sangat sarat pesan kemanusiaan. Dalam praktek peribadatan puasa bahkan manusia diperintahkan merasakan langsung kondisi sosial orang lain yang mengalami kehidupan kurang beruntung. Ada dorongan keras membangun relasi kemanusiaan melalui rasa lapar mereka yang menjalani puasa.
Melalui rasa lapar dalam menjalankan puasa diharapkan terjalin hubungan kemanusiaan tanpa lagi ada batas-batas dalam bentuk apapun. Manusia melalui puasa dikembalikan pada jati diri aslinya sebagai manusia. Bahwa manusia itu sama, yang berbeda –meminjam istilah Mohammad Sobari- hanya kurungannya. Jadi jangan karena hanya beda kurungan lalu dibentangkan jarak lebar seakan tak bisa lagi bertemu.
Bila beda kurungan saja tidak menghalangi kebersamaan dan persaudaraan apalagi yang memiliki identitas sama sebagai sesama muslim. Terasa menyedihkan jika kesamaan kemusliman terperangkap pertikaian hanya karena perbedaan pilihan politik. Sebuah kepahitan yang pernah menghiasi perhelatan Pilkada terutama Pilkada Jakarta sehingga persoalan mensolatkan jenazahpun menjadi pertentangan keras.
Seperti pernyataan kawan di atas, harapan nilai keberuntungan kedatangan Ramadhan yang paling sederhana kembalinya suasana kebersamaan. Melalui pencerahan dan penyegaran nilai kemanusiaan ikatan persaudaraan sesama muslim diharapkan terbangun kembali. Keterbelahan sisa Pilkada disambungkan lagi melalui perasaan senasib sepenanggungan.
Demikian pula hubungan antar masyarakat –tanpa membedakan ikatan keagamaan- dijalin kembali. Bukankah rasa lapar yang dirasakan mereka yang berpuasa menerobos lintas batas merasakan nestapa orang lain tanpa pertimbangan keterikatan keagamaan. Karena itu selayaknya jalinan hubungan sosial terangkai kembali untuk kemudian bersinergi membenahi dan menyelesaikan berbagai persoalan di negeri ini.
Selamat berpuasa, jalin kebersamaan sesama menuju Indonesia yang lebih baik.