Oleh: Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si | Bupati Sumenep
Konon, dalam sebuah kisah, ada seorang pemuda sedang bertapa di sebuah tempat tak jauh dari sungai. Di tengah-tengah konsentrasinya, petapa muda ini terusik dengan suara gemericik air yang terasa janggal dibenaknya.
Rasa penasaran membuat si petapa muda membuka mata dan beranjak, mencari sumber suara itu. Hingga akhirnya, si petapa muda melihat seekor kepiting sedang berjuang melawan arus sungai yang begitu kuat.
Karena merasa kasihan, si petapa muda lalu menolong kepiting yang berusaha ke tepian sungai. Ia menjulurkan tangan, membiarkan jarinya dijepit kepiting sampai terluka. Kejadian tersebut terulang sampai tiga kali.
Melihat kejadian itu, seorang kakek bijaksana menegur si petapa muda. Menurut si kakek, niat pemuda itu sudah baik, menolong sesama makhluk. Namun caranya kurang tepat sehingga sampai melukai dirinya sendiri.
Menurut si kakek, untuk menolong kepiting yang sedang berjuang mempertahankan hidupnya, petapa bisa menggunakan ranting, tak harus membiarkan jari-jarinya terjepit capit kepiting sampai membengkak.
Dari kisah di atas, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Salah satunya, jika dikaitkan dengan Ramadan, kita harus tetap peka terhadap realitas sosial meski sedang khusyuk berburu pahala. Jangan sampai, karena sedang berpuasa kita justru lupa untuk membantu orang lain yang butuh uluran tangan kita.
Ramadan adalah momentum untuk ‘membakar’ dosa-dosa kita. Karenanya, mari bakar dosa kita dengan memperbanyak sedekah di bulan suci ini. Sebab, di antara keutamaan sedekah dapat menghapus dosa, seperti Sabda Rasulullah SAW: sedekah dapat menghapus dosa, sebagaimana air memadamkan api. (HR. Tirmidzi).
Pelajaran lainnya, berbuat baik kepada sesame jangan sampai mengorbankan diri sendiri. Jangan karena terlalu semangat berbuat bagi kepada orang lain, kita lantas lupa kepada kewajiban kita sendiri, terutama sebagai hamba Allah SWT. Karena itu akan sangat merugikan diri sendiri. Wallahu a’lam. (*)