Dalam sebuah tulisan, saya menemukan sebuah kisah, bahwa ada seorang pemuda bersama kakeknya. Suatu ketika, si kakek meminta anak muda itu mengambil air ke sungai menggunakan keranjang kotor; bukan ember seperti pada umumnya.
Berulang kali si anak muda berusaha memenuhi permintaan kakek yang dicintainya, namun selalu gagal. Dia tak pernah berhasil membawakan air untuk si kakek dengan menggunakan keranjang.
Melihat si anak mudah mulai kelelahan, sang kakek kemudian mengajaknya duduk. Dengan bijaksana lalu ia menjelaskan bahwa meskipun usahanya mendapat air menggunakan keranjang selalu gagal, tetap ada hikmah di balik semua itu. Keranjang yang semula kotor menjadi bersih.
Lebih lanjut, si kakek menjelaskan bahwa seperti itu pula orang yang membaca Alquran. Meski tak paham maksudnya, tapi jika dilakukan secara rutin tetap akan ada hikmah yang bisa dipetik. Dengan izin Allah, kita akan mengalami pembersihan, baik jasmani maupun rohani.
Cerita di atas tak lain untuk memotivasi kita semua agar senang membaca Alquran dan tak melupakannya meski tak paham terhadap maksudnya. Lebih-lebih di bulan Ramadan yang penuh berkah seperti sekarang.
Di antara hikmah yang bisa dirasakan saat banyak membaca Alquran ialah dapat menghindarkan kita dari berpikiran buruk terhadap sesama yang dapat menimbulkan perpecahan, seperti yang terjadi belakangan ini di Indonesia.
Jika di antara kita ada yang suka berpikiran negatif terhadap sesama, dengan memperbanyak membaca Alquran maka kita tidak akan memiliki waktu untuk saling menghujat, saling memfitnah, dan saling menjatuhkan.
Begitu juga jika di antara kita selama ini memiliki kebiasaan menyebarkan hoax, misalnya, di media sosial yang dapat menimbulkan kegaduhan, dengan memperbanyak membaca Alquran kebiasaan seperti itu lambat laun juga akan hilang. Sebab membaca Alquran dalam menjadikan waktu kita menjadi lebih produktif.
Itulah sebagian kecil dari hikmah membaca Alquran. Karena itu, di bulan yang identik dengan Alquran ini, mari perbanyak membaca Alquran. Daripada Ramadan hanya dihabiskan untuk hal-hal tak penting, lebih baik kita habiskan dengan mengaji dan mengkaji Alquran, lalu mengamalkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahu a’lam! (*)