SAMPANG, koranmadura.com – Menjelang masuk sekolah, penjahit sandal dan sepatu mulai kebanjiran order. Umumnya, setiap hari para penjahit hanya menggarap 5-10 pasang sepatu maupun sandal, kini meningkat hingga 20 pasang.
“Alhamdulillah meningkat, sekarang mampu dapat uang Rp 100-150 ribu dari hari-hari biasanya. Kebanyakan yang dijahit itu yang sudah mulai rusak. Tapi ada juga yang masih baru beli langsung dijahit,” ucap Pak Sam (37), penjahit sepatu asal Lamongan yang mangkal di depan Pasar Margalela, Sampang saat ditemui koranmadura.com, Sabtu, 15 Juli 2017.
Bapak dengan empat orang anak ini mengaku, profesi sebagai penjahit sepatu sudah dijalaninya sejak 1989 dengan berkeliling ke rumah warga. Namun sejak lima tahun terakhir ini, dirinya mengaku mangkal di depan pasar Srimangunan.”Dulu saya keliling,Mas, tapi sekarang semenjak pasar Srimangunan di bangun tingkat itu saya mangkal disini,” akunya.
Penghasilan rata-rata di hari biasa hanya berkisar Rp 35-50 ribu. Menurutnya, mata pencaharian sebagai profesi penjahit sepatu hanya bersifat untung-untungan saja. Sebab saat ini ada sebanyak belasan sesama penjahit yang mangkal untuk mengais rezeki bersama-sama.
“Untung-untungan saja,Mas, sama seperti orang mancing, kadang dapat kadang tidak. Di sini yang senasib dengan saya itu ada belasan. Ya kalau rezeki dapat garapan, kadang ya tidak ada. Pernah sehari saya dapet Rp 5- 10 ribu saja. Kami mangkal dari pukul 7-8 wib dan pulang pukul 14.00 wib,” keluhnya.
Disinggung apakah cukup untuk kebutuhan sehari-hari, Pak Sam dengan tersenyum mengaku sangat cukup. Keempat anaknya sudah menjalani pendidikan meski hanya sampai tingkatan SMK. Dirinya memilih Madura karena awalnya untuk menjajal peruntungan saja.
“Saya ngontrak. Tiga anak saya yang sudah lulus SMK kerja serabutan. Satunya lagi baru lulus, yang penting dapat rezeki lah meski sedikit. Tapi yang terpenting sajian setiap harinya bukan barang mewah,” pungkasnya. (MUHLIS/MK)