SUMENEP, koranmadura.com – Jumlah desa di lingkungan Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang mengajukan permintaan suplai air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bertambah.
Beberapa waktu lalu, 10 Agustus 2017, jumlahnya masih lima desa. Namun saat ini permintaan air bersih yang masuk kepada BPBD sudah mencapai 15 desa. “Sementara permintaan yang masuk kepada kami 15 desa,” kata Kepala BPBD Sumenep, Abd. Rahman Riadi, Rabu, 23 Agustus 2017.
Mantan Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumenep itu mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang melakukan verifikasi kepada beberapa desa yang mengajukan permintaan suplai air bersih.
Verifikasi dilakukan agar suplai air bersih kepada masyarakat efektif. “Kalau tidak diverifikasi lebih dulu, khawatir droping air itu kurang atau lebih. Kan, tidak efektif,” ujarnya.
Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan, tahun ini peta daerah rawan kekeringan menurun dari tahun lalu, dari 38 menjadi 37 desa tersebar di 13 kecamatan. Di antaranya di Kecamatan Pasongsongan, Lenteng, Batuputih, Pragaan, Nonggunong, dan Gili Genting.
Sebanyak 37 desa tersebut dibagi dua kategori,15 desa kekeringan kritis dan 22 desa lainnya kekeringan langka. Desa disebut mengalami kekeringan kritis apabila sumber mata air masyarakat di desa itu berada di radius lebih dari tiga kilometer. Sedangkan kekeringan langka, sumber mata air berada di radius 3 kilometer. (FATHOL ALIF/MK)