Almarhum Syu’bah Asa, wartawan senior ketika menulis Editorial pertama Majalah Editor menggugat sikap para generasi muda negeri ini tentang kemerdekaan. Seandainya mereka warga Palestina, kata Syu’bah Asa, akan beda cara pandang dan perasaannya tentang kemerdekaan. Akan jauh menghargai tentang makna dan nilai kemerdekaan.
Syu’bah Asa agaknya saat itu seperti galau menyaksikan sikap generasi muda pada setiap moment peringatan hari kemerdekaan. Seakan kemerdekaan tak lebih pergeseran waktu tanpa sedikitpun ada proses mencapainya. Seakan kemerdekaan negeri ini jatuh begitu saja dari langit tanpa perjuangan menguras air mata dan mengucurkan darah para pahlawan.
Tapi apa mau dikata. Kegelisahan dan kegalauan seperti itu tak akan pernah pupus dari mereka yang memahami apalagi mengalami masa-masa sulit perjuangan kemerdekaan; termasuk pula saat negeri ini baru merdeka, bila menyaksikan sepak terjang generasi masa kini. Sementara generasi muda praktis bersikap ibarat menghadapi pohon: hanya memetik buahnya. Tak pernah mengetahui bagaimana menamam pohon itu, bagaimana menyiram, menyiangi, memberi pupuk dan lainnya. Seperti kata pepatah, orang yang tak pernah menderita, tak akan pernah merasakan penderitaan orang lain. Mereka yang berjarak waktu dengan moment negeri ini merdeka, yang tak tahu bagaimana proses negeri ini merdeka hingga seperti sekarang, kadang “cuek” saja dengan moment peringatan kemerdekaan.
Ini mungkin semacam sunnatullah seperti kata pepatah tadi. Dan tak hanya di negeri ini generasi muda yang tak pernah berdarah-darah membuat generasi tua galau. Di negara manapun suasana sama akan selalu ditemui. Karena itu tak perlu disesali jika generasi masa kini, sebut saja, seperti membiarkan tanpa bekas moment peringatan hari kemerdekaan. Yang terpenting adakah kesadaran mereka memanfaatkan suasana sekarang ini dengan kesungguhan untuk mengisinya dan terutama merawat agar kedamaian, ketenangan, kebersamaan tetap terjaga. Ini yang paling realistis dalam memandang setiap hari-hari negeri ini menjalani kemerdekaan.
Sayangnya, masih banyak sebagian dari masyarakat negeri ini untuk sebuah sikap realistis saja sulit diharapkan. Mereka kadang tak hanya kurang gairah mengisi hari kemerdekaan. Seringkali menyelinap pikiran-pikiran yang kadang jauh dari rasional. Bukannya mensyukuri apa yang ada malah sebaliknya berpikir melayang-layang dalam impian kosong. Bukannya berpikir dan bekerja keras malah berteriak tanpa kejelasan tujuan. Bukannya mengisi apa yang sudah ada malah menghayalkan yang tak jelas.
Mungkin dalam konteks kekinian kegalauan Syu’bah Asa perlu disegarkan kembali. Sederhana saja: lihatlah Syiria yang porak poranda; Irak yang selalu berdarah; Palestina yang tak pernah sepi dari dentuman bom. Dan masih banyak negara lain yang jangankan berbenah malah sibuk saling menghancurkan, saling membunuh untuk atas nama simbol; bukan subtansi sebuah kehidupan kenegaraan.
Sayang memang, di era ketika pertumpahan darah di negara lain terpapar jelas, kesadaran akan makna rasa damai, tentram dari buah kemerdekaan negeri ini belum tumbuh mewujud dalam semangat kerja keras. Masih saja impian-impian utopis berseliweran hingga akhirnya alih-alih impian terwujud, langkah mereka yang masih terbuai mimpi itu tertinggal jauh dalam persaingan keras meraih prestasi.
Masih saja berteriak tentang format negara sementara yang lain sudah bergegas berbuat. Masih saja berpikir tentang politik identitas ketika subtansi nilai dapat berkembang semarak negeri ini.
Ternyata memang tidak mudah memaknai kemerdekaan. Inilah pekerjaan terbesar negeri ini, di usia ke 72 tahun. Mengajak berpikir untuk merasakan nilai kemerdekaan dan berbuat memaknainya.