SUMENEP, koranmadura.com – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumenep, Madura, Jawa Timur, selama lima tahun terakhir, terhitung sejak 2010 sampai 2015, angka buta aksara di kabupaten paling timur Pulau Madura ini hanya turun tak sampai satu persen.
Menyikapi hal itu, Bupati Sumenep, A. Busyro Karim mengatakan ada perbedaan data yang dimiliki pihaknya dengan BPS. “Nggak, lah. Persoalannya, kan, begini, ketika sudah dilaksanakan KF (keaksaraan fungsional) dengan biaya besar, yang menjadi sasaran KF itu sebenarnya sudah bisa baca-tulis. Cuma selang beberapa bulan datang dari BPS menanyakan, mereka (sasaran KF) jawab tidak tahu. Itu yang menjadikan perbedaan antara data BPS dengan data yang kami punya,” sanggahnya, Senin, 11 September 2017.
Hanya saja, orang nomor satu di lingkungan Pemkab ini tidak memaparkan data yang dimiliki pihaknya terkait persentase penurunan angka buta aksara di Sumenep sepanjang tahun itu.
Bupati mengaku akan melakukan evaluasi terhadap program KF. Bahkan, untuk terus mengentaskan buta aksara di Sumenep, pihaknya telah menjalin kerja sama, salah satunya dengan PKK. “Entah apa namanya nanti,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS Sumenep, angka buta aksara di kabupaten paling timur Pulau Madura di tahun 2010 mencapai 20,24 persen dari jumlah penduduk saat itu sekitar 1 juta 44 ribu jiwa lebih. Sementara rilis terakhir terkait angka buta huruf pada 2015, di Sumenep masih 19,34 persen dari jumlah penduduk 1 juta 72 ribu jiwa lebih.
“Jadi ada penurunan 0,9 persen saja. Tidak ada 1 persen selama lima tahun terakhir. Betul ada penurunan. Pemberantasan buta hurufnya cukup berhasil. Cuma, penurunannya di bawah 1 persen poin,” kata Kepala BPS Sumenep, Syaiful Rahman, Selasa lalu, 5 September 2017. (FATHOL ALIF/RAH)