SUMENEP, koranmadura.com – Penanganan jangka panjang bencana kekeringan di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, membutuhkan investasi cukup besar. Sebab tak semua daerah terdampak kekeringan memiliki sumber air.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Abd. Rahman Riyadi mencontohkan Desa Montorna dan Prancak, Kecamatan Pasongsongan. “Meski dibor sedalam 100 meter tidak ada air,” katanya.
Menurutnya, salah satu solusinya harus dibangun infrastruktur. Akan tetapi, pihaknya mengaku tidak mungkin melakukan itu sendirian. Perlu ada kerja sama antar semua pihak terkait, baik di tingkat kabupaten, provinsi hingga pusat. Bahkan dari pemerintahan desa. Mengingat saat ini Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (DD-ADD) yang diterima desa cukup besar.
“Misalnya terkait infrastruktur perpipaan, pembangunannya bisa disharing. Berapa kilo meter menggunakan DD-ADD, sisanya bisa dari APBD atau APBN. Nanti kami usulkan kalau memang menjadi skala prioritas desa,” ujarnya.
Seperti diketahui, berdasarkan pemetaan BPBD, tahun ini sebanyak 37 desa yang tersebar di 13 kecamatan rawan kekeringan, baik kritis maupun langka.
Jumlah desa rawan kekeringan di Sumenep kemungkinan masih akan meluas. Berdasarkan prakiraan BMKG Kalianget, awal musim hujan di daerah ini masih diprediksi sampai pertengahan sampai akhir November nanti. (FATHOL ALIF/RAH)