PROBOLINGGO, koranmadura.com – Ribuan santri pondok pesantren (ponpes) Riyadhlus Solihin, Ketapang, Kota Probolinggo, Jawa Timur, menggelar salat gaib untuk korban meninggal dari etnis Rohingnya, Myanmar. Hal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan kaum muslim di Probolinggo terhadap saudara sesama muslim yang meninggal.
Dengan khusuk, ribuan santri melaksanakan salat gaib dan membaca ayat-ayat suci Alquran di masjid ponpes. Pembacaan doa membuat santri terharu, dengan banyaknya korban meninggal terutama anak-anak hingga bayi tak berdosa.
Ribuan santri ini juga akan mengirim surat petisi desakan agar pemerintah Indonesia mendesak pemerintah berkuasa Myanmar menghentikan kekerasan terhadap Rohingya. Bila perlu, ada sanksi tegas dari dunia internasional. Jika bisa, putus hubungan diplomatik dengan Myanmar.
Dikatakan oleh Habib Hadi Zainal Abidin, pengasuh pondok pesantren Riyadhlus Solihin, kekejaman di Myanmar merupakan kekejaman paling keji dan harus diberi sanksi serta hukuman berat dari dunia internasional.
“Ini tidak boleh dibiarkan dengan waktu yang lama. Kekejaman ini harus ada tindakan dari pemerintah Internasional. Kami menggelar salat gaib dan doa bersama ini, sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap saudara kita yang meninggal dunia, yang telah dibunuh. Kami berharap hal ini akan segera berakhir dengan baik,” tukas Habib Hadi, usai melakukan salat gaib, Senin, 4 September 2017.
Usai menggelar salat gaib, santri juga membaca Yasin dan tahlil selama tujuh hari berturut-turut. Selain doa untuk korban meninggal, doa ini juga khusus untuk keluarga para korban, agar diberi ketabahan. (detik.com /rah)