SEMARANG, koranmadura.com – Memiliki cita-cita dan bisa menggapainya mungkin tidak mudah. Namun lulusan Universitas Negeri Semarang (Unnes) Aga Rahmadani (25) membuktikan kalau hal itu mungkin. Aga, mampu menjadi seorang ilustrator bertaraf internasional dan kini sedang berusaha mengembangkan usahanya di China.
Aga sudah sejak umur 5 tahun senang menggambar dan sejak saat itu pula bertekad ingin menjadi seniman. Ternyata cita-cita itu ia pegang terus meski keluarga tidak memberikan dukungan penuh.
“Dari umur 5 tahun ingin jadi seniman,” kata Aga saat dihubungi melalui telepon karena saat ini dia sedang berada di China, Jumat (27/10/2017).
Untuk menggapai cita-citanya, Aga berkuliah di Unnes mengambil jurusan Seni Rupa. Awalnya, tahun 2012 Aga mencoba memajang hasil karya ilustrasinya di Facebook dan membuat akun linkedin kemudian nekat masuk ke grup ilustrator profesional.
“Saya masuk grup ilustrator profesional, padahal waktu itu belum profesional. Terus saya dihubungi editor yang sedang haunting cari ilustrator,” tutur perempuan yang ulang tahun pada 21 Maret 1992 itu.
Order pertama secara profesional justru datang dari Malaysia yaitu penerbit buku Karangkraft. Ia diminta membuat ilustrasi untuk sebuah buku. Dari sana karyanya mulai dikenal dan banyak editor menghubunginya.
“Karangkraft share hasil karya saya kemudian ada editor menghubungi,” ujar warga asli Krobokan, Semarang itu.
Dari tahun 2012 sampai 2014 Aga menjalani pekerjaan sebagai freelancer membuat ilustrasi buku, kamus, buku sains, dan lainnya. Ia ketika praktek kerja lapangan juga pernah menggantikan desainer surat kabar yang sedang sakit selama 2 bulan dan karyanya masih dipakai sampai sekarang. Pengalamannya bertambah ketika dia diminta mendesain semua hal tentang hari jadi Bondowoso mulai dari iklan hingga backdrop.
“Portofolio saya semakin banyak, saya share terus karya saya. Bermunculanlah penulis datang minta ilustrasi,” cerita Aga.
Meski sudah “laris” di karangan editor, Aga tetap mengerjakan pesanan personal untuk hadiah ulang tahun, wisuda, dan sebagainya. Makin lama order semakin banyak dan Aga mulai kewalahan dan berpikiran mengembangkan usaha dengan karyawan hingga terciptalah perusahaan startup Gagestudio dengan omzet minimal Rp 20 juta per bulan.
“Klien saya dari luar kebanyakan. Ada Amerika, Eropa, Inggris, India, Jepang, Australia. Macam-macam ilustrasi buku, periodik, desain packaging, majalah, tekstil, sarung bantal, dan lainnya,” pungkasnya. (detik.com)